Wamenaker: Industri Harus Jadi “Laboratorium Pencetak Ahli”
- account_circle syaiful amri
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor
JAMBISNIS.COM – Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menegaskan pentingnya peran industri sebagai “laboratorium pencetak ahli” guna menjembatani kesenjangan antara teori pendidikan dan kebutuhan riil dunia kerja. Menurut dia, industri tidak lagi cukup hanya menjadi pengguna tenaga kerja, tetapi harus mengambil peran aktif dalam membentuk kompetensi sumber daya manusia (SDM) sejak masa pelatihan.
“Industri bukan lagi sekadar pemakai tenaga kerja, tetapi harus menjadi laboratorium pencetak ahli,” ujar Afriansyah dalam keterangan tertulis, Rabu (25/2/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan usai peninjauan Program Magang Nasional atau MagangHub di Plant 1 PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat.
Afriansyah menilai kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha menjadi kunci dalam menekan kesenjangan kompetensi lulusan pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri manufaktur.
Ia mencontohkan ekosistem pengembangan SDM di TMMIN yang dinilai telah berjalan sistematis, mulai dari program vokasi, internship, hingga praktik kerja lapangan (PKL). Secara keseluruhan, perusahaan tersebut mampu menjangkau sekitar 250 peserta pelatihan setiap tahun.
Pada Program Magang Nasional 2026, sebanyak 21 peserta mengikuti pelatihan intensif di fasilitas produksi perusahaan tersebut.
“Kami ingin standar pelatihan seperti ini dapat direplikasi oleh perusahaan manufaktur lain agar kualitas tenaga kerja Indonesia merata secara nasional,” kata dia.
Selain mendorong peran aktif industri, Kementerian Ketenagakerjaan juga melakukan penyesuaian uang saku peserta Magang Nasional 2026 seiring dengan kenaikan Upah Minimum (UM) di masing-masing daerah.
Penyesuaian tersebut, kata Afriansyah, merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk menjaga keberlanjutan program sekaligus meningkatkan kesejahteraan peserta magang. Uang saku dalam program ini berfungsi sebagai dukungan biaya hidup selama peserta mengikuti pelatihan dan praktik kerja di perusahaan atau institusi mitra.
- Penulis: syaiful amri


Saat ini belum ada komentar