Tanah Jakarta Turun 10 Cm per Tahun, Seberapa Lama Ibu Kota Bisa Bertahan?
- account_circle syaiful amri
- calendar_month 9 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Warga memanfaatkan air tanah untuk memenuhi kebutuhan sehari hari
JAMBISNIS.COM – Laju penurunan muka tanah di Jakarta mencapai lebih dari 10 sentimeter per tahun di sejumlah wilayah. Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan karena berpotensi memperparah banjir, merusak infrastruktur, hingga mengancam keberlanjutan kota.
Pengamat tata kota Prof. Putu Rumawan Salain mengatakan, tren tersebut harus segera direspons dengan langkah mitigasi yang terencana dan berkelanjutan.
“Dengan penurunan tanah mencapai 10 sentimeter per tahun, ini cukup mengkhawatirkan. Jakarta wajib menyiapkan blueprint penanggulangan bencana, khususnya banjir,” ujar Putu, Rabu (11/2/2026).
Menurut dia, dari perspektif tata kota, penurunan tanah memicu terbentuknya efek cekungan atau bowl effect. Dalam kondisi ini, permukaan daratan lebih rendah dari sekitarnya sehingga air hujan sulit mengalir keluar secara alami.
Ketika hujan deras bertepatan dengan pasang laut, genangan berpotensi bertahan lebih lama. Kondisi tersebut diperparah dengan terbatasnya kapasitas drainase dan ketergantungan pada sistem pompa.
Putu menilai, Jakarta memerlukan master plan drainase yang canggih dan terintegrasi, termasuk pembangunan sodetan baru serta kolam retensi untuk menahan limpasan air sebelum dipompa keluar.
Selain banjir, dampak lain yang mengintai adalah kerusakan fisik infrastruktur. Penurunan tanah yang tidak merata dapat menyebabkan retakan pada jalan, lantai beton, hingga fondasi bangunan.
“Jika terjadi penurunan yang berbeda-beda di tiap titik, jalan dan bangunan bisa retak. Dalam jangka panjang, ini membahayakan keselamatan,” kata dia.
Salah satu faktor utama amblesnya tanah Jakarta adalah eksploitasi air tanah yang berlebihan. Penggunaan air tanah untuk kebutuhan industri, gedung tinggi, kawasan bisnis, dan permukiman padat dinilai mempercepat penurunan muka tanah.
Menurut Putu, ketergantungan tersebut menunjukkan belum optimalnya penyediaan air bersih berbasis air permukaan oleh pemerintah. Karena itu, ia mendorong pembatasan penggunaan air tanah serta optimalisasi pengolahan air sungai dan danau sebagai sumber air baku.
Wilayah pesisir utara Jakarta menjadi kawasan paling rentan. Selain risiko banjir rob, kawasan ini juga terancam intrusi air laut yang dapat merusak lapisan akuifer air tawar.
Dalam 20 tahun ke depan, para ahli memprediksi risiko banjir meningkat dan kerusakan infrastruktur meluas apabila tren penurunan tanah tidak ditekan.
“Yang paling dikhawatirkan adalah tenggelamnya pesisir pantai Jakarta,” ujar Putu.
Meski demikian, ia menegaskan Jakarta masih bisa bertahan jika strategi mitigasi dijalankan secara konsisten dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
- Penulis: syaiful amri

Saat ini belum ada komentar