Sabtu, 26 Sep 2026
light_mode
Beranda » Perbankan » Sentralisasi DHE ke Himbara, Ekonom Ingatkan Bahaya Liquidity Shock dan Monopoli

Sentralisasi DHE ke Himbara, Ekonom Ingatkan Bahaya Liquidity Shock dan Monopoli

  • account_circle syaiful amri
  • calendar_month Rabu, 10 Des 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAMBISNIS.COM – Pemerintah tengah merancang perubahan aturan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam untuk memperkuat pasokan valuta asing di dalam negeri. Namun, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa kebijakan yang diambil tanpa pertimbangan matang bisa memicu rush valas hingga menimbulkan gangguan stabilitas ekonomi.

Seperti diketahui, pemerintah telah memberlakukan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025 yang mengatur kewajiban penempatan DHE SDA di perbankan nasional. Meski demikian, efektivitas kebijakan tersebut kini kembali dievaluasi Presiden Prabowo Subianto karena belum optimal meningkatkan cadangan devisa.

Sejak Juni 2025, posisi cadangan devisa sempat merosot hingga berada pada level US$148,7 miliar pada September. Kondisi mulai membaik pada Oktober–November, namun kenaikan tersebut disebut lebih banyak berasal dari penerimaan pajak dan pinjaman luar negeri.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu, mengatakan revisi aturan saat ini sedang dibahas dan telah disosialisasikan kepada perbankan serta pelaku usaha. Salah satu perubahan penting adalah kewajiban menempatkan DHE SDA secara khusus pada bank-bank BUMN atau Himbara.

Selain pemusatan, tingkat konversi valuta asing yang sebelumnya wajib 100 persen akan diturunkan menjadi 50 persen untuk meningkatkan likuiditas valas domestik.

Sejumlah ekonom memandang pemusatan DHE SDA ke Himbara berpotensi menekan likuiditas valas bank swasta dan bisa membuat pelaku ekspor harus menanggung biaya tambahan untuk memindahkan dananya.

Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menilai pemerintah harus memastikan kesiapan infrastruktur dan kapasitas bank BUMN mengelola lonjakan dana valas. Selain itu, investor asing yang menjadi pemegang saham bank swasta juga dapat kehilangan kepercayaan apabila likuiditas memburuk.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai arah kebijakan pemerintah berisiko mendorong sentralisasi sektor keuangan di bawah bank-bank BUMN. Hal tersebut, menurut dia, berpotensi menghambat persaingan dan mengulang pola monopoli layanan ekspor-impor.

“Dominasi Himbara tidak otomatis menciptakan industri keuangan yang efisien,” ujarnya.

  • Penulis: syaiful amri

Rekomendasi Untuk Anda

  • Harga Perak Antam Naik Drastis Menjadi Rp 29.889 per Gram

    Harga Perak Antam Naik Drastis Menjadi Rp 29.889 per Gram

    • calendar_month Kamis, 13 Nov 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga perak murni milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) naik drastis pada Kamis (13/11/2025). Perak Antam naik Rp 2.225 menjadi Rp 29.889 per gram. Kenaikan harga tersebut membuat Harga dasar perak Antam murni ikut terkerek, dengan berat 250 gram kini dipatok sebesar Rp 8.756.250, dengan harga yang termasuk PPN 11% menjadi Rp 9.719.438. […]

  • Kronologi Bupati Aceh Selatan Umrah Meski Izin Ditolak Saat Bencana Banjir

    Kronologi Bupati Aceh Selatan Umrah Meski Izin Ditolak Saat Bencana Banjir

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memaparkan kronologi keberangkatan umrah Bupati Aceh Selatan Mirwan MS yang tetap berangkat ke Arab Saudi di tengah bencana banjir dan longsor di wilayah Aceh dan Sumatera. Menurut Tito, Mirwan sebelumnya telah mengajukan izin bepergian ke luar negeri pada 22 November 2025 melalui pemerintah daerah setempat untuk diteruskan […]

  • Bisnis Makanan Kukusan Makin Populer, Peluang Cuan di 2025

    Bisnis Makanan Kukusan Makin Populer, Peluang Cuan di 2025

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Gaya hidup sehat kini menjadi bagian dari keseharian masyarakat urban Indonesia. Salah satu tren kuliner yang terus naik daun pada 2025 adalah makanan kukusan — makanan yang diolah tanpa minyak goreng, tanpa pengawet, dan tetap menggugah selera. Tren ini bukan hanya mencerminkan perubahan pola konsumsi, tapi juga membuka peluang bisnis baru yang menjanjikan. […]

  • Target PSR Jambi 2026 Capai 7.800 Hektare, Dana Peremajaan Sawit Rp60 Juta per Hektare

    Target PSR Jambi 2026 Capai 7.800 Hektare, Dana Peremajaan Sawit Rp60 Juta per Hektare

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM –  Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Jambi menargetkan pelaksanaan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) seluas 7.800 hektare sepanjang 2026. Program yang dibiayai melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kebun sawit rakyat yang telah memasuki usia tidak produktif. Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Hendrizal, mengatakan proses validasi calon penerima masih berlangsung. […]

  • Tito Karnavian: Koperasi Desa Jadi Kunci Pengendalian Inflasi dan Stabilitas Harga di Daerah

    Tito Karnavian: Koperasi Desa Jadi Kunci Pengendalian Inflasi dan Stabilitas Harga di Daerah

    • calendar_month Selasa, 28 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menilai Koperasi Desa (Kopdes) memiliki peran strategis dalam mengendalikan inflasi daerah. Menurutnya, Kopdes dapat menjadi saluran distribusi baru bagi program-program strategis pemerintah yang langsung menyasar masyarakat lapisan terbawah. Tito menuturkan, selama ini salah satu persoalan utama dalam kebijakan pengendalian harga adalah saluran distribusi yang tidak merata hingga […]

  • Wajah Ekonomi Jambi 2026: Ekonomi Tumbuh, Pengangguran Turun, Tapi UMKM Masih Hadapi Tantangan Daya Beli

    Wajah Ekonomi Jambi 2026: Ekonomi Tumbuh, Pengangguran Turun, Tapi UMKM Masih Hadapi Tantangan Daya Beli

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Perekonomian Provinsi Jambi memasuki 2026 dengan sejumlah indikator yang menunjukkan perbaikan. Pertumbuhan ekonomi meningkat sepanjang 2025, pengangguran menurun, kemiskinan berkurang dan kualitas pembangunan manusia terus membaik. Namun, di tengah tren positif tersebut, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) masih menghadapi tantangan. Kenaikan harga barang dan biaya operasional membuat pertumbuhan ekonomi belum tentu […]

expand_less