Rupiah Menguat 43 Poin Hari Ini, Dolar AS Turun ke Rp18.141
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 45 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Uang pecahan rupiah dan dolar AS.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan pada pembukaan perdagangan Kamis (29/10/2026). Mata uang Indonesia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meski masih bertahan di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Mengutip Antara, rupiah dibuka menguat 43 poin atau 0,24 persen ke level Rp18.141 per dolar AS. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.184 per dolar AS.
Menariknya, penguatan rupiah terjadi ketika indeks dolar AS justru bergerak melemah. Pada perdagangan hari ini, indeks dolar AS turun 0,2 persen ke level 102,169.
Pelemahan dolar AS membuka ruang bagi rupiah untuk menguat. Namun, peluang penguatan mata uang Indonesia masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75–4,00 persen pada Kamis (29/10/2026) dini hari WIB. Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar, tetapi perbedaan pandangan di internal bank sentral menunjukkan bahwa risiko kenaikan suku bunga belum sepenuhnya hilang.
Dua pejabat The Fed, Lisa Cook dan Beth Hammack, menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Sikap tersebut mencerminkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi AS yang masih tinggi.
Ketua The Fed Kevin Warsh juga belum memberikan kepastian mengenai arah kebijakan berikutnya. Bank sentral masih berupaya mengembalikan inflasi ke target 2 persen, sehingga keputusan suku bunga selanjutnya akan bergantung pada perkembangan ekonomi dan inflasi.
“Banyak hal bisa terjadi. Karena itu, saya tidak bisa membagikan pemikiran saya mengenai apa yang akan terjadi ketika kelompok ini kembali berkumpul enam pekan dari sekarang,” ujar Warsh, dikutip dari Reuters.
Ketidakpastian tersebut membuat investor tetap memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter AS pada pertemuan Desember mendatang. Pasar bahkan memperkirakan peluang kenaikan suku bunga mencapai sekitar 80 persen.
Ekspektasi kenaikan suku bunga turut memengaruhi pasar obligasi AS. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun dilaporkan meningkat ke level 5,042 persen setelah keputusan The Fed diumumkan.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS berpotensi meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Kondisi tersebut dapat mendorong investor mengalihkan dana ke instrumen berdenominasi dolar AS dan membatasi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Bagi Indonesia, perkembangan kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu dicermati karena dapat memengaruhi arus modal asing dan pergerakan nilai tukar rupiah.
Rupiah yang menguat berpotensi membantu menekan biaya impor bahan baku, mesin, dan sejumlah komoditas yang dibayar menggunakan dolar AS. Namun, jika tekanan terhadap rupiah kembali meningkat, pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor berisiko menghadapi kenaikan biaya dalam mata uang domestik.
Karena itu, pelemahan dolar AS belum tentu menjadi jaminan rupiah akan terus menguat. Pergerakan selanjutnya masih akan dipengaruhi data inflasi AS, ekspektasi suku bunga, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta respons investor terhadap kebijakan bank sentral tersebut.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
