Kamis, 22 Okt 2026
light_mode
Beranda » Nasional » Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.060 per Dolar AS, BI Longgarkan Likuiditas Perbankan

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.060 per Dolar AS, BI Longgarkan Likuiditas Perbankan

  • account_circle Darmanto Zebua
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan Kamis (22/10/2026), rupiah melemah 38 poin atau 0,21 persen menjadi Rp18.060 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.022 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen, sekaligus melanjutkan pelonggaran kebijakan makroprudensial untuk mendukung likuiditas perbankan.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, pergerakan rupiah tersebut berlangsung seiring langkah BI menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) dan memperpanjang kebijakan rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV).

“BI melanjutkan kebijakan makroprudensial untuk mendukung likuiditas rupiah, termasuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) dan memperpanjang kebijakan LTV/FTV,” kata Josua dikutip Antara, Kamis (22/10/2026).

BI Turunkan GWM Perbankan

BI menurunkan GWM secara rata-rata sebesar 2 poin persentase untuk memperkuat kecukupan likuiditas rupiah di sektor perbankan.

Secara terperinci, GWM bagi bank umum konvensional (BUK) diturunkan dari 9 persen menjadi 7 persen. Sementara itu, GWM bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) turun dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen.

Kebijakan tersebut ditujukan untuk memberikan ruang likuiditas lebih besar bagi perbankan. Dalam perekonomian, ketersediaan likuiditas dapat mendukung penyaluran kredit dan pembiayaan kepada dunia usaha maupun masyarakat.

Bagi pelaku UMKM, akses pembiayaan yang memadai berpotensi membantu kebutuhan modal kerja dan pengembangan usaha. Namun, dampaknya terhadap kegiatan ekonomi tetap bergantung pada penyaluran kredit, permintaan pembiayaan, serta kemampuan pelaku usaha memenuhi persyaratan perbankan.

Di sisi lain, pelemahan rupiah tetap menjadi perhatian karena dapat meningkatkan biaya pembelian bahan baku, mesin, dan barang impor yang transaksinya menggunakan dolar AS.

Suku Bunga BI Bertahan 5,75 Persen

Keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen turut menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar dalam menilai arah kebijakan moneter dan pergerakan rupiah.

Selain pasar valuta asing, pasar surat utang pemerintah juga menunjukkan pergerakan imbal hasil atau yield yang menurun di berbagai tenor.

Berdasarkan data yang disampaikan, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor lima tahun tercatat 7,21 persen, turun 1 basis poin. Tenor 10 tahun berada di level 7,43 persen, turun 2 basis poin.

Sementara itu, yield SBN tenor 15 tahun mencapai 7,42 persen atau turun 1 basis poin. Adapun tenor 20 tahun berada di level 7,41 persen, terkoreksi 2 basis poin.

Penurunan yield tersebut menunjukkan perubahan tingkat imbal hasil yang diminta investor di pasar obligasi. Pergerakannya dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk ekspektasi suku bunga, kondisi likuiditas, dan permintaan terhadap surat utang pemerintah.

Transaksi Obligasi Pemerintah Meningkat

Aktivitas perdagangan obligasi pemerintah juga mengalami peningkatan. Volume perdagangan SBN pada Rabu (21/10/2026) tercatat mencapai Rp24,39 triliun, naik dibandingkan Rp15,71 triliun pada hari perdagangan sebelumnya.

Peningkatan volume tersebut menunjukkan aktivitas transaksi yang lebih besar di pasar obligasi pemerintah. Meski demikian, besarnya volume perdagangan tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh investor memiliki pandangan yang sama terhadap arah pasar.

Ke depan, pergerakan rupiah masih akan menjadi perhatian pelaku usaha dan investor. Bagi dunia bisnis, stabilitas nilai tukar penting untuk membantu memperkirakan biaya impor, menentukan harga jual, dan menyusun kebutuhan modal.

Sementara itu, efektivitas pelonggaran likuiditas perbankan dalam mendukung perekonomian akan bergantung pada seberapa jauh tambahan ruang likuiditas dapat mendorong pembiayaan produktif dan aktivitas usaha di sektor riil.(*)

  • Penulis: Darmanto Zebua
  • Editor: Darmanto Zebua

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pasar Asia Menguat di Tengah Ketegangan Dagang Baru AS-China

    Pasar Asia Menguat di Tengah Ketegangan Dagang Baru AS-China

    • calendar_month Rabu, 15 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Pasar saham Asia dibuka menguat pada Rabu (15/10/2025), setelah Amerika Serikat (AS) dan China kembali terlibat dalam ketegangan perdagangan. Kenaikan ini berlawanan dengan pelemahan di Wall Street. Presiden AS Donald Trump pada Selasa menuding China tidak membeli kedelai dari negaranya, yang disebutnya sebagai “tindakan bermusuhan secara ekonomi”. Ia juga mengancam akan menerapkan sanksi […]

  • Rupiah Dibuka Menguat Rp16.573 per Dolar AS

    Rupiah Dibuka Menguat Rp16.573 per Dolar AS

    • calendar_month Kamis, 16 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah menguat pada pembukaan perdagangan Kamis (16/10/2025) pagi. Rupiah menguat sebesar 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.573 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.576 per dolar AS. Mayoritas mata uang di kawasan Asia juga menguat terhadap dolar AS pagi ini. Baht Thailand mencatat penguatan terbesar yakni 0,38%, disusul won […]

  • Kemendagri Tekankan Perencanaan Matang dan Optimalisasi APBD di Tengah Tantangan Fiskal

    Kemendagri Tekankan Perencanaan Matang dan Optimalisasi APBD di Tengah Tantangan Fiskal

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menegaskan pentingnya perencanaan yang matang dan optimalisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebagai kunci pengelolaan keuangan daerah yang akuntabel dan responsif. Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kemendagri, Agus Fatoni, mengatakan kekuasaan pengelolaan keuangan daerah secara konstitusional berada di tangan kepala daerah, baik gubernur maupun bupati dan wali kota. […]

  • Prabowo Kucurkan Rp101 Triliun untuk Selamatkan Industri Tekstil, Lindungi Jutaan Tenaga Kerja

    Prabowo Kucurkan Rp101 Triliun untuk Selamatkan Industri Tekstil, Lindungi Jutaan Tenaga Kerja

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menyiapkan dana sekitar Rp101 triliun untuk melindungi dan memperkuat industri tekstil nasional. Langkah ini diambil guna menjaga keberlangsungan sektor padat karya yang menyerap jutaan tenaga kerja serta menghadapi tekanan global dan persaingan industri internasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa dana tersebut setara dengan […]

  • Dana SAL Rp200 Triliun Mulai Disalurkan ke Himbara, Begini Dampaknya ke Ekonomi Nasional

    Dana SAL Rp200 Triliun Mulai Disalurkan ke Himbara, Begini Dampaknya ke Ekonomi Nasional

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Pemerintah mulai mengalirkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) senilai Rp200 triliun ke perbankan nasional sejak September lalu. Langkah ini menjadi perhatian pelaku industri keuangan, karena dana jumbo tersebut diharapkan bisa memperkuat likuiditas Himbara dan mendorong pemulihan ekonomi nasional menjelang akhir 2025. Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa telah menempatkan dana SAL ke Himpunan Bank […]

  • Harga Emas Antam Naik Rp24.000, Nyaris Tembus Rp 2,5 Juta per Gram

    Harga Emas Antam Naik Rp24.000, Nyaris Tembus Rp 2,5 Juta per Gram

    • calendar_month Kamis, 16 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk atau Antam kembali naik pada Kamis (16/10/2025) ini. Bahkan nyaris tembus Rp2,5 juta per gram. Lantaran harga emas Antam kembali melesat sebesar Rp 24.000 per gram hari ini. Kenaikan itu membuat harga emas Antam mencapai Rp 2,4 juta per gram, tepatnya Rp 2.407.000 per gram. Yang sekaligus […]

expand_less