Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp18.074 per Dolar AS, Tekanan Belum Mereda!
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 30 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Mata uang Indonesia dan dolar AS.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (23/10/2026). Pelemahan ini membuat rupiah semakin tertekan setelah ditutup pada level Rp18.074 per dolar AS.
Mengutip Antara, rupiah melemah 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp18.074 per dolar AS. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.060 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi ketika indeks dolar AS terpantau stagnan. Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia itu bertahan di level 101,603, tanpa perubahan dibandingkan posisi sebelumnya.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memperkirakan penyaluran kredit baru perbankan meningkat pada kuartal IV-2026. Berdasarkan Survei Perbankan Triwulan III-2026 yang dirilis Kamis (22/10/2026), Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru diproyeksikan naik menjadi 91,31 persen, dari 90,08 persen pada kuartal sebelumnya.
Prospek tersebut sejalan dengan penurunan Indeks Lending Standard (ILS) dari 0,28 menjadi 0,15. Angka ini mengindikasikan standar pemberian kredit diperkirakan lebih longgar, sehingga berpotensi mendukung pembiayaan kegiatan usaha.
Namun, sentimen eksternal masih menjadi perhatian pelaku pasar. Mengutip laporan The New York Times, Amerika Serikat dan Israel disebut telah menyusun rencana untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS pada November mendatang.
Ketidakpastian meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington tidak sedang bernegosiasi dengan Teheran. Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Pada awal perdagangan Asia Jumat (23/10/2026), harga minyak mentah Brent berada di sekitar US$112,96 per barel setelah melonjak sekitar 4 persen pada perdagangan sebelumnya.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak menjadi risiko tersendiri. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, Indonesia berpotensi menghadapi peningkatan tagihan impor energi dan kebutuhan dolar AS. Jika berlangsung berkelanjutan, kondisi tersebut juga dapat menambah tekanan inflasi dan biaya operasional dunia usaha.
Di sisi lain, investor beralih ke obligasi pemerintah AS atau US Treasury sebagai aset aman. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun turun lebih dari 17 basis poin menjadi 4,972 persen, sedangkan tenor dua tahun merosot lebih dari 16 basis poin menjadi 4,659 persen.
Penurunan imbal hasil obligasi AS berpotensi mengurangi tekanan terhadap mata uang negara berkembang. Namun, ketidakpastian geopolitik dan risiko kenaikan harga energi masih membayangi pergerakan rupiah.
Dengan kondisi tersebut, pelaku usaha perlu mencermati perkembangan kurs dan harga energi global, terutama perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor serta memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS. Perubahan kedua faktor itu dapat memengaruhi biaya produksi, harga jual, dan perencanaan arus kas perusahaan.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
