Rupiah Jebol Lagi! Tembus Rp18.000 per Dolar AS
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Nilai kurs rupiah hari ini.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Selasa (4/8/2026). Mata uang Indonesia kembali menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Mengutip Antara, rupiah mengawali perdagangan dengan melemah 0,18 persen atau 32 poin ke posisi Rp18.029 per dolar AS. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya. Rupiah masih berada di level Rp17.997 per dolar AS.
Dengan pelemahan tersebut, rupiah kembali berada di atas level Rp18.000 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,11 persen ke posisi 100,001. Penguatan tersebut membawa mata uang negeri Paman Sam kembali bergerak di atas level psikologis 100, setelah sebelumnya sempat menyentuh posisi terendah dalam satu setengah bulan.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan bahwa stabilitas rupiah terus dijaga. Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan rupiah mulai kembali menguat pada akhir Juli setelah mengalami tekanan sejak pertengahan Juni.
“Rupiah kembali menguat ke level 17.994 per dolar AS pada 31 Juli 2026 setelah sempat melemah pertengahan Juni 2026,” kata Destry dalam konferensi pers di kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Senin (3/8/2026).
Menurut Destry, penguatan rupiah didukung oleh masuknya modal asing ke pasar keuangan domestik, terutama melalui Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), seiring meningkatnya imbal hasil yang diterima investor.
BI juga mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75%. Kebijakan tersebut turut diarahkan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan memperkuat stabilitas rupiah.
Selain melalui kebijakan suku bunga, BI terus melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar domestik maupun luar negeri, untuk menjaga pergerakan rupiah dari gejolak yang berlebihan.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber dan narasumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
