Rupiah Diprediksi Melemah Jelang Rilis Notulen Rapat The Fed
- account_circle -
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Nilai tukar rupiah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah belum menunjukkan tanda-tanda bergerak pada perdagangan Selasa (7/7/2026). Kurs rupiah tercatat stagnan di level Rp17.995 per dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip Antara, mata uang Indonesia tidak mengalami perubahan sama sekali atau 0 poin (0,00 persen) dibandingkan hari sebelumnya. Dengan demikian, kurs rupiah masih bertahan di level psikologis Rp17.995 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, mata uang Indonesia juga berada di posisi yang sama, yakni Rp17.995 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau melemah tipis 0,02% ke posisi 100,829.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan rupiah melemah seiring pelaku pasar menunggu rilis notulen meeting Federal Reserve (The Fed).
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih dalam tekanan yang diperkirakan melemah pada kisaran di Rp17.950-Rp18.020 dipengaruhi faktor global. Walaupun index dollar melemah, namun pelaku pasar masih hati-hati dalam mengantisipasi rilis notulen meeting The Fed pada Kamis, 9 Juli, waktu AS,” ujarnya.
Pada rapat The Fed sebelumnya, lanjut Rully, bank sentral AS masih fokus pada target inflasi 2 persen. Namun, data tenaga kerja nonfarm payrolls (NFP) yang buruk berpotensi mengalihkan fokus The Fed di bawa Gubernur Bank Sentral AS Kevin Warsh, sehingga diperkirakan akan lebih fleksibel terhadap forward guideline yang memberikan sinyal lebih pasti terhadap arah suku bunga.
Melihat faktor domestik, pelaku pasar mempertimbangkan sentimen neraca perdagangan yang mengalami defisit 1,61 miliar dolar AS dan arus modal keluar di pasar saham sejak awal Juli sebesar Rp2,73 triliun.
Selain itu, pelaku pasar dikatakan juga masih wait and see data cadangan devisa yang akan dirilis pada siang hari ini oleh Bank Indonesia (BI).
“Cadangan devisa diperkirakan kembali turun akibat intervention BI di pasar valas, namun masih pada rasio yang memadai di atas 5 bulan impor dan pembayaran utang pemerintah,” ungkap Rully.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua
