Rumah Bergaya Industrial Lebih Murah Ketimbang Minimalis, Benarkah?
- account_circle -
- calendar_month 24 menit yang lalu
- comment 0 komentar

ILUSTRASI: Bangunan rumah minimalis.
JAMBISNIS.COM – Perdebatan mengenai biaya pembangunan rumah bergaya industrial dibandingkan dengan minimalis kerap muncul di tengah masyarakat. Namun, benarkah jika rumah bergaya industrial lebih mahal ketimbang minimalis?
Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Georgius Budi Yulianto atau akrab disapa Boegar menegaskan, pertanyaan tersebut pada dasarnya tidak dapat dijawab secara absolut.
“Biaya konstruksi sangat dipengaruhi oleh banyak variabel, mulai dari lokasi, spesifikasi material, kompleksitas desain, kualitas pengerjaan, hingga preferensi klien,” ujar Boegar dikutip dari Kompas.com, Kamis (26/3/2026).
Dia menjelaskan, secara konseptual terdapat perbedaan pendekatan antara arsitektur minimalis dan industrial yang turut memengaruhi struktur biaya.
Dalam arsitektur minimalis, kesederhanaan bentuk dan kejernihan ruang menjadi prinsip utama.
Namun, penerapannya justru menuntut presisi tinggi pada setiap detail. Dinding harus rata sempurna, sambungan material nyaris tak terlihat, serta finishing dilakukan dengan standar sangat halus. Kondisi tersebut membuat kebutuhan tenaga kerja terampil dan kontrol kualitas meningkat.
“Pendekatan minimalis sering kali berimplikasi pada biaya yang tidak rendah karena tuntutan kualitas pengerjaannya,” kata Boegar.
Sementara itu, pendekatan industrial mengedepankan kejujuran material dan ekspresi struktur.
Elemen seperti beton ekspos, baja, hingga instalasi utilitas dibiarkan terlihat sebagai bagian dari estetika ruang. Konsep ini dikenal dengan prinsip pulchrum splendor est veritatis, yakni keindahan sebagai pancaran dari kebenaran.
Dengan kata lain, tidak ada upaya menyembunyikan struktur atau memberikan lapisan finishing berlebih. Sehingga, berpotensi mengurangi biaya tambahan.
Meski demikian, Boegar mengingatkan bahwa desain industrial tidak otomatis lebih murah. Sebaliknya, beton ekspos dengan kualitas tinggi, justru lebih mahal. Misalnya, tetap membutuhkan pengerjaan presisi, mulai dari bekisting hingga campuran material yang terkontrol agar hasilnya tidak cacat.
Hal serupa juga berlaku pada penggunaan baja dan instalasi terbuka yang tetap memerlukan perlindungan terhadap korosi serta perencanaan teknis yang matang. Dengan demikian, perbandingan biaya antara rumah minimalis dan industrial sebaiknya dilihat sebagai spektrum, bukan perbedaan yang bersifat mutlak.
“Desain industrial bisa lebih ekonomis jika konsisten pada efisiensi konstruksi, sementara minimalis cenderung membutuhkan investasi pada finishing dan detail.
Pada akhirnya, peran arsitek adalah menyesuaikan desain dengan anggaran tanpa mengorbankan kualitas dan kenyamanan,” jelasnya.
Kesimpulannya, mahal atau tidaknya sebuah rumah tidak semata ditentukan oleh gaya arsitektur, melainkan bagaimana desain tersebut direncanakan dan direalisasikan.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua


Saat ini belum ada komentar