Breaking News
light_mode
Beranda » Nasional » Ruang Fiskal Prabowo Tertekan, Shortfall Pajak 2025 Berisiko Lebarkan Defisit APBN

Ruang Fiskal Prabowo Tertekan, Shortfall Pajak 2025 Berisiko Lebarkan Defisit APBN

  • account_circle syaiful amri
  • calendar_month Kam, 8 Jan 2026
  • comment 0 komentar

JAMBISNIS.COM – Ruang gerak fiskal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kian tertekan seiring dengan pelebaran shortfall penerimaan pajak 2025. Realisasi penerimaan pajak yang jauh di bawah target memunculkan risiko pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), di tengah kebutuhan belanja negara yang tetap tinggi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Bisnis, realisasi penerimaan pajak sepanjang 2025 diperkirakan hanya mencapai sekitar Rp1.917 triliun. Angka tersebut setara 92,3% dari outlook APBN 2025 sebesar Rp2.076,9 triliun. Jika dibandingkan dengan target APBN 2025 yang mencapai Rp2.189,3 triliun, capaian itu hanya berada di kisaran 87,7%.

Capaian tersebut lebih rendah dari simulasi optimistis yang sebelumnya disusun berdasarkan tren penerimaan pajak hingga Agustus 2025. Berdasarkan kinerja penerimaan pajak periode 2022—2024, penerimaan pada empat bulan terakhir tahun anggaran biasanya berada di kisaran 31,7%—38% dari total realisasi.

Namun, dengan posisi penerimaan pajak hingga Agustus 2025 yang baru mencapai 54,7%, maka realisasi akhir 2025 diperkirakan hanya berada di kisaran 86,4% atau Rp1.794,4 triliun. Sementara skenario paling optimistis hanya mampu mencapai 92,7% atau Rp1.925,2 triliun.

Angka tersebut juga berada di bawah simulasi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan yang sebelumnya memproyeksikan penerimaan pajak 2025 berada di rentang Rp1.947 triliun hingga Rp2.005 triliun.

Hingga berita ini ditulis, Direktur Jenderal Pajak Kemenkeu Bimo Wijayanto serta Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP Rosmauli belum memberikan tanggapan atas perkembangan realisasi penerimaan pajak tersebut.

Sementara itu, Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan pajak hingga akhir November 2025 baru mencapai Rp1.634,4 triliun atau sekitar 78,7% dari outlook APBN 2025. Artinya, diperlukan tambahan penerimaan sekitar Rp442,5 triliun hanya dalam satu bulan terakhir untuk menutup target, sebuah capaian yang dinilai sulit direalisasikan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pun mengakui bahwa penerimaan pajak 2025 dipastikan berada di bawah target.

“Ya, penerimaan pajak di bawah outlook kira-kira,” ujar Purbaya singkat saat ditemui di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu (31/12/2025).

Tak tercapainya target penerimaan pajak tersebut berimplikasi langsung terhadap pelebaran defisit APBN 2025. Purbaya menyebut defisit berpotensi melampaui outlook sebesar 2,78% terhadap produk domestik bruto (PDB), meski tetap dijaga agar tidak menembus batas aman 3% PDB sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003.

“Defisit di atas itu outlook 2,78%. Yang jelas kami tidak melanggar Undang-undang 3%, dan kami komunikasi terus dengan DPR,” tegas Purbaya.

Jika defisit benar-benar melebar, maka realisasi defisit APBN 2025 berpotensi menjadi yang terburuk sejak 2015, di luar periode pandemi Covid-19 yang ditandai dengan lonjakan utang negara secara signifikan.

Berdasarkan informasi internal yang dihimpun Bisnis, Ditjen Pajak menyebut batas aman penerimaan pajak agar defisit tetap di bawah 3% PDB berada di kisaran Rp2.005 triliun. Namun, realisasi yang mampu dicapai oleh kantor wilayah DJP hanya sekitar Rp1.947,2 triliun.

Peneliti Senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, menilai jika penerimaan negara pada Desember 2025 gagal menembus Rp340 triliun, maka defisit APBN sangat berisiko menembus batas 3% PDB.

“Dengan rata-rata penerimaan bulanan 2025 sekitar Rp214 triliun, skenario defisit melewati 3% PDB menjadi sangat mungkin. Itu berarti kebutuhan pembiayaan utang pemerintah akan meningkat,” ujarnya dalam Media Briefing Outlook 2026, Rabu (7/1/2026).

Deni menambahkan, tekanan fiskal ke depan semakin berat karena pada 2026 pemerintah menghadapi jatuh tempo utang di kisaran Rp700 triliun hingga Rp800 triliun, di tengah kondisi global yang juga penuh ketidakpastian.

Sementara itu, ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara mendorong evaluasi menyeluruh kebijakan fiskal pada 2026. Menurutnya, sejumlah kebijakan fiskal 2025 tidak efektif mendorong konsumsi, terutama karena stimulus yang bersifat parsial dan belum menyasar kelas menengah yang menyumbang lebih dari 68% konsumsi rumah tangga nasional.

“Stimulus yang tidak menyentuh basis konsumsi utama akan sulit mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyaluran kredit,” tegas Bhima.

Ia juga menyoroti kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan kredit serta kebijakan penambahan likuiditas yang dinilai tidak menjawab akar persoalan sektor riil.

  • Penulis: syaiful amri

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Harga Sembako Jambi Hari Ini Stabil, Cabe Rawit Merah Turun!

    Harga Sembako Jambi Hari Ini Stabil, Cabe Rawit Merah Turun!

    • calendar_month Rab, 22 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga kebutuhan pokok di Kota Jambi pada pekan keempat Oktober 2025 masih terpantau stabil. Berdasarkan data resmi SIHARKO Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kota Jambi, sebagian besar harga sembako di dua pasar utama, yaitu Pasar Rakyat Talang Banjar dan Pasar Angso Duo, tidak mengalami perubahan yang signifikan. Hanya beberapa komoditas yang tercatat mengalami […]

  • Perdagangan Hari Ini IHSG Menguat 43,67 poin ke Level 8.676

    Perdagangan Hari Ini IHSG Menguat 43,67 poin ke Level 8.676

    • calendar_month Sen, 8 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada awal perdagangan Senin (8/12/2025). IHSG menguat 43,67 poin atau 0,51% ke 8.676,08. Sebanyak 367 saham naik, 86 saham turun dan 217 saham stagnan. 10 indeks sektoral menguat, menopang kenaikan IHSG. Indeks sektoral dengan kenaikan terbesar adalah sektor teknologi yang naik 1,37%, sektor keuangan naik 1,17% […]

  • Harga Emas Pegadaian Hari Ini 1 Desember 2025: UBS dan Galeri24 Kompak Stagnan di Level Tertinggi

    Harga Emas Pegadaian Hari Ini 1 Desember 2025: UBS dan Galeri24 Kompak Stagnan di Level Tertinggi

    • calendar_month Sen, 1 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga emas Pegadaian dari dua produk logam mulia, yakni UBS dan Galeri24, kompak stagnan pada perdagangan Senin, 1 Desember 2025. Stabilnya harga ini terjadi setelah beberapa hari sebelumnya emas sempat merangkak naik mendekati level Rp 2,5 juta per gram. Harga jual emas Galeri24 tetap di Rp 2.458.000 per gram, sementara emas UBS tidak […]

  • Investasi Whoosh Lebih Besar dari Kereta Cepat Arab Saudi

    Investasi Whoosh Lebih Besar dari Kereta Cepat Arab Saudi

    • calendar_month Ming, 26 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) memiliki nilai investasi lebih tinggi dibanding proyek Saudi Land Bridge, meski jarak trayek Whoosh jauh lebih pendek. Panjang jalur Whoosh tercatat 142,3 km, sementara Saudi Land Bridge yang menghubungkan Jeddah di Laut Merah dengan Dammam di Teluk Arab melalui Riyadh mencapai 1.500 km. Nilai investasi proyek Whoosh mencapai […]

  • Kerugian Banjir Sumatra Tembus Rp 68,6 Triliun, Kerusakan Diduga Dipicu Sawit dan Tambang

    Kerugian Banjir Sumatra Tembus Rp 68,6 Triliun, Kerusakan Diduga Dipicu Sawit dan Tambang

    • calendar_month Kam, 4 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada November 2025 kembali menegaskan rentannya kawasan tersebut terhadap kerusakan ekologis. Analisis terbaru Center of Economic and Law Studies (Celios) menunjukkan, kerugian ekonomi akibat bencana mencapai jauh di atas penerimaan daerah dari sektor pertambangan dan perkebunan sawit yang selama ini mendorong alih fungsi lahan. Celios […]

  • Tunggu Peresmian, Indonesia Bakalan Punya Kilang Minyak Terbesar di Balikpapan

    Tunggu Peresmian, Indonesia Bakalan Punya Kilang Minyak Terbesar di Balikpapan

    • calendar_month Sel, 6 Jan 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Indonesia bersiap memiliki kilang minyak terbesar pada 2026 dengan kapasitas pengolahan mencapai 360.000 barel per hari (bph). Kilang tersebut merupakan Kilang Balikpapan yang dikembangkan melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP). Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengatakan peresmian Kilang Balikpapan ditargetkan berlangsung pada […]

expand_less