Purbaya Yudhi Sadewa Ungkap Strategi Pemerintah Jaga Stabilitas Rupiah
- account_circle say say
- calendar_month 37 menit yang lalu
- comment 0 komentar

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
JAMBISNIS.COM – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa penguatan fondasi ekonomi nasional menjadi strategi utama pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Menurut Purbaya, stabilitas nilai tukar akan lebih mudah dijaga apabila kondisi fundamental ekonomi tetap kuat. Dengan demikian, gejolak eksternal tidak akan memberikan tekanan yang terlalu besar terhadap rupiah.
“Selama fondasi ekonomi kita bagus, mengendalikan rupiah akan lebih mudah dibandingkan jika kondisi ekonomi sedang tidak baik,” ujar Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa pemerintah terus menjaga koordinasi erat dengan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter untuk memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.
Purbaya mengatakan salah satu langkah penting yang dilakukan adalah menjaga likuiditas dalam sistem keuangan agar tetap memadai. Selain itu, otoritas moneter juga terus melakukan pemantauan terhadap pergerakan nilai tukar di pasar.
Menurut dia, kerja sama yang solid antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi faktor penting dalam meredam dampak gejolak pasar global terhadap perekonomian nasional.
“Kalau kita memastikan perkembangan ekonomi baik, likuiditas di sistem cukup, dan BI memonitor kondisi nilai tukar, maka kerja sama yang baik antara pemerintah dan BI sangat penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” kata Purbaya.
Ia menambahkan bahwa dengan koordinasi yang kuat, tekanan dari dinamika pasar global dapat dikelola dengan lebih baik.
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya juga menanggapi kekhawatiran mengenai dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap anggaran subsidi energi pemerintah, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri.
Ia menegaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga energi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Menurutnya, perhitungan subsidi energi telah disusun untuk periode satu tahun penuh dengan asumsi rata-rata harga minyak sekitar 70 dolar AS per barel.
“Kenaikan ini baru terjadi beberapa hari. Subsidi energi dihitung untuk satu tahun penuh dengan asumsi rata-rata harga sekitar 70. Jadi kenaikan beberapa hari ini belum cukup untuk mengubah anggaran kita,” ujarnya.
Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka menguat pada perdagangan Rabu (11/3/2026). Rupiah tercatat naik 12 poin atau sekitar 0,07 persen menjadi Rp16.851 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.863 per dolar AS.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah dipengaruhi oleh penurunan harga minyak dunia setelah sebelumnya melonjak akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi di kawasan Timur Tengah.
Menurut dia, rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat terbatas.
Ia memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada pada kisaran Rp16.800 hingga Rp16.950 per dolar AS, seiring perkembangan situasi global dan pergerakan harga komoditas energi.
- Penulis: say say


Saat ini belum ada komentar