Pelemahan Rupiah Terhenti, Kini Jadi Rp16.771 per Dolar AS
- account_circle darmanto zebua
- calendar_month Rab, 24 Des 2025
- comment 0 komentar

ILUSTRASI: Hari ini rupiah dibuka bergerak menguat 16 poin atau 0,10 persen menjadi Rp16.771 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.787 per dolar AS.(F:Ist)
JAMBISNIS.COM – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akhirnya terhenti pada perdagangan Rabu (24/12/2025). Rupiah dibuka bergerak menguat 16 poin atau 0,10 persen menjadi Rp16.771 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.787 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi seiring tekanan pada dolar AS yang bergerak melemah dan berada di jalur menuju kinerja tahunan terburuknya dalam lebih dari dua dekade.
Pelemahan dolar dipicu oleh keyakinan investor bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga lebih lanjut pada tahun depan.
Pada perdagangan Asia, dolar AS masih berada di bawah tekanan. Bahkan, data pertumbuhan ekonomi AS yang solid belum mampu mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter.
Investor kini memperkirakan The Fed akan melakukan sekitar dua kali pemangkasan suku bunga pada 2026.
“Kami memperkirakan FOMC akan mengambil kompromi berupa dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin ke kisaran 3%–3,25%, dengan risiko yang condong ke arah penurunan,” ujar Kepala Ekonom AS Goldman Sachs, David Mericle dikutip dari kontan, seraya menyoroti tren perlambatan inflasi.
Terhadap sekeranjang mata uang utama, indeks dolar sempat turun ke level terendah dalam dua setengah bulan di posisi 97,767.
Sepanjang tahun ini, dolar tercatat melemah sekitar 9,9%, yang berpotensi menjadi penurunan tahunan terdalam sejak 2003.
Tekanan terhadap dolar juga dipengaruhi dinamika kebijakan Presiden AS Donald Trump, termasuk penerapan tarif yang agresif serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap independensi The Fed akibat pengaruh politik yang menguat.
“Premi risiko dolar AS melebar pada Desember, yang menunjukkan bahwa pelemahan dolar tidak hanya mencerminkan prospek kebijakan moneter, tetapi juga meningkatnya kekhawatiran terhadap independensi The Fed,” tulis analis HSBC dalam laporan prospek mata uang dilansir dari Reuters.(*)
- Penulis: darmanto zebua
- Editor: Darmanto Zebua

Saat ini belum ada komentar