Negosiasi AS vs Iran Temukan Jalan Buntu, Program Nuklir hingga Selat Hormuz Jadi Pemicu
- account_circle say say
- calendar_month Senin, 13 Apr 2026
- print Cetak

Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mendesak AS dan Iran tetap mematuhi kesepakatan gencatan senjata usai pembicaraan damai kedua negara mandek.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu setelah negosiasi maraton selama 21 jam gagal mencapai kesepakatan. Perundingan yang berlangsung sejak Sabtu (11/4/2026) itu memperpanjang ketidakpastian terkait kelanjutan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati selama dua pekan.
Negosiasi ini menjadi pertemuan langsung pertama antara kedua negara sejak Revolusi Islam Iran 1979, namun diwarnai perbedaan tajam pada sejumlah isu krusial.
Salah satu penyebab utama kegagalan adalah tuntutan Amerika Serikat agar Iran menghentikan sepenuhnya program nuklirnya. Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa Washington membutuhkan komitmen tegas dari Teheran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Di sisi lain, Iran menolak tuntutan tersebut dan menilai permintaan AS tidak realistis. Teheran menegaskan bahwa program nuklir yang dijalankan hanya untuk kepentingan sipil dan sah secara internasional.
Selain isu nuklir, sengketa juga terjadi terkait pengelolaan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia. Iran bersikeras ingin mengendalikan selat tersebut, termasuk menerapkan biaya transit bagi kapal yang melintas. Sementara itu, AS menuntut jalur tersebut tetap terbuka tanpa hambatan.
Ketegangan juga diperparah dengan pembahasan mengenai sanksi ekonomi, ganti rugi perang, serta situasi keamanan di kawasan, termasuk konflik di Lebanon.
Dalam perkembangan terpisah, Pakistan sebagai mediator mendesak kedua pihak tetap mematuhi gencatan senjata guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Para analis menilai kebuntuan ini berpotensi memperburuk stabilitas global, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur distribusi sekitar 20 persen minyak dan gas dunia. Gangguan di wilayah tersebut telah memicu lonjakan harga energi global.
- Penulis: say say
