Nasib Kopi Indonesia di Tengah Harga Tak Stabil dan Iklim Ekstrem
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Kam, 15 Jan 2026
- comment 0 komentar

Biji Kopi yang siap di olah
JAMBISNIS.COM – Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia. Namun, industri kopi nasional kini menghadapi tantangan serius akibat volatilitas harga global, perubahan iklim, serta pengetatan regulasi internasional yang terus berkembang. Kondisi tersebut berdampak langsung pada petani hingga eksportir kopi di Tanah Air.
Di tengah tekanan tersebut, Louis Dreyfus Company (LDC) menempatkan diri sebagai mitra strategis dalam menjaga stabilitas rantai pasok kopi Indonesia sekaligus memperkuat daya saing di pasar global. Dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di Indonesia, LDC mengembangkan rantai pasok terintegrasi mulai dari pengadaan, pengolahan, penyimpanan, hingga ekspor kopi.
Country Head of Indonesia Louis Dreyfus Company, Rajat Dutt, menyampaikan bahwa integrasi rantai pasok memberikan visibilitas dan ketertelusuran (traceability) yang penting, terutama saat harga kopi bergejolak dan terjadi gangguan logistik global.
“Integrasi ini memberi kami visibilitas dan ketertelusuran di sepanjang rantai pasok, yang sangat penting selama masa volatilitas harga dan gangguan logistik,” ujar Rajat, Rabu (14/1/2026).
Selain manajemen risiko, LDC juga memperkuat infrastruktur dengan membangun fasilitas gudang kopi baru di Lampung. Langkah ini bertujuan meningkatkan kapasitas penyimpanan, menjaga kualitas kopi, serta memastikan kelancaran pasokan untuk kebutuhan ekspor.
Pengolahan dan penyimpanan di dalam negeri memungkinkan kualitas kopi Indonesia terjaga, sekaligus memenuhi tuntutan traceability yang semakin ketat di pasar internasional.
Tak hanya fokus pada infrastruktur, LDC bekerja langsung dengan lebih dari 10.000 petani kopi di Indonesia melalui program peningkatan kualitas produksi, konsistensi hasil panen, serta kinerja lingkungan.
Salah satu inisiatif unggulan adalah Stronger Coffee Initiative, yang mendorong peningkatan produktivitas petani sekaligus pemulihan ekosistem. Program ini mencakup restorasi lahan di Aceh, Sumatra Utara, dan Lampung dengan penanaman sekitar 628.000 pohon, serta pelatihan bagi lebih dari 18.000 petani dan anggota masyarakat.
Dalam upaya keberlanjutan, LDC juga melibatkan generasi muda dan pakar industri kopi untuk mempercepat penerapan praktik pertanian regeneratif dan climate-smart agriculture. Bersama mitra lokal, perusahaan menguji teknologi ramah lingkungan seperti biochar guna menurunkan emisi karbon, meningkatkan kesuburan tanah, dan efisiensi biaya.
Rajat menambahkan, digitalisasi rantai pasok dan pelatihan petani juga dilakukan untuk membantu memenuhi regulasi global, termasuk Regulasi Uni Eropa tentang Produk Bebas Deforestasi (EUDR).
Indonesia sendiri memiliki keunggulan kopi Arabika premium dari daerah seperti Gayo, Ijen, dan Kintamani, yang terus diminati pasar specialty global. Kolaborasi berkelanjutan antara petani, pemerintah, dan pelaku industri diharapkan mampu membangun sektor kopi Indonesia yang lebih tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan.
- Penulis: syaiful amri

Saat ini belum ada komentar