Menguat, Pagi Ini Rupiah Rp16.634 per Dolar AS
- account_circle darmanto zebua
- calendar_month Kam, 27 Nov 2025
- comment 0 komentar

ILUSTRASI: Nilai tukar rupiah bergerak menguat 0,18 persen menjadi Rp16.634 per dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini.(F:Ist)
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah bergerak menguat pada pembukaan perdagangan hari ini, Kamis (27/11/2025). Rupiah menguat 30 poin atau 0,18 persen menjadi Rp16.634 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.664 per dolar AS. Di sisi lain, greenback terpantau mengalami pelemahan.
Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia. Yen Jepang terapresiasi 0,27% bersama won Korea sebesar 0,18%. selanjutnya, baht Thailand dan ringgit Malaysia mencatat penguatan masing-masing sebesar 0,10% dan 0,17%.
Sementara itu, yuan China menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang melemah setelah turun 0,02% terhadap the greenback.
Dilansir Bisnis.com, Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan bahwa nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif tetapi ditutup melemah di rentang Rp16.660 hingga Rp16.700 pada perdagangan hari ini.
Pada perdagangan sebelumnya, indeks dolar AS tercatat melemah seiring meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga The Fed. Data ekonomi AS yang tertunda, dirilis Selasa, juga memperkuat prospek pelonggaran kebijakan. Pasar global disebut tengah mencermati perkembangan perundingan damai Rusia–Ukraina yang tersendat, karena keduanya masih saling melakukan serangan.
Risiko geopolitik yang tinggi menambah ketidakpastian pasar. Dari data ekonomi AS, Indeks Harga Produsen (IHP) utama September naik 0,3% secara bulanan (MoM) usai turun 0,1% di Agustus.
IHP inti, yang tidak termasuk makanan dan energi, naik 0,2% MoM, lebih rendah dari perkiraan 0,3%. Sementara itu, penjualan ritel hanya naik 0,2% MoM pada September, menurun dari 0,6% di Agustus. Hal ini menunjukkan belanja konsumen yang lebih lemah.
“Conference Board melaporkan bahwa sentimen rumah tangga juga memburuk pada bulan November, dengan Keyakinan Konsumen turun 6,8 poin menjadi 88,7 dari 95,5 pada bulan Oktober,” ujar Ibrahim.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia 6% yang disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dinilai realistis. Namun, pencapaian target ini dinilai membutuhkan perubahan pendekatan analisis ekonomi dan cara negara mendorong aktivitas ekonomi.
Menurutnya, pertumbuhan 6% membutuhkan perubahan fundamental dalam kebijakan fiskal dan moneter serta strategi penggerak ekonomi. Penempatan dana pemerintah di perbankan mulai menunjukkan hasil, tetapi belum optimal.
“Kebijakan yang sudah ada harus ada pendorong tambahan. Ada beberapa langkah kunci yang harus diambil. Salah satunya dilakukannya reformasi pasar tenaga kerja dan dukungan pada industri dalam negeri,” tutur Ibrahim.
Selain itu, dia menyebut bahwa pemberian insentif pajak bagi perusahaan yang membuka lapangan pekerjaan baru diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat daya saing nasional.(*)
- Penulis: darmanto zebua

Saat ini belum ada komentar