Impor 105.000 Pikap India 50% Lebih Murah dari Lokal, Ini Perbandingan Harga Hilux dan Triton
- account_circle syaiful amri
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Mobil pikap dari India
JAMBISNIS.COM – Rencana impor 105.000 unit mobil pikap dari India oleh PT Agrinas Pangan Nusantara memicu perdebatan di tengah pelaku industri otomotif nasional. Salah satu alasan utama impor tersebut adalah faktor harga yang diklaim jauh lebih murah dibandingkan kendaraan serupa produksi dalam negeri.
Direktur Utama Agrinas, Joao Angelo De Sousa Mota, menyampaikan bahwa perusahaan telah menandatangani perjanjian kerahasiaan atau non-disclosure agreement (NDA) dengan pemasok asal India, yakni Mahindra dan Tata Motors. Karena itu, detail harga pembelian belum dapat diungkap ke publik.
Meski demikian, Joao menyebut harga pikap 4×4 yang diimpor hampir 50 persen lebih murah dibandingkan produk 4×4 yang saat ini beredar di pasar Indonesia.
“Kami membeli dalam jumlah besar (bulk), sehingga harganya hampir 50 persen lebih murah daripada produk 4×4 yang beredar sekarang di pasaran Indonesia,” ujarnya.
Di pasar domestik, segmen pikap 4×4 saat ini diisi sejumlah model dari pabrikan Jepang. Dua model yang cukup populer adalah Toyota Hilux dan Mitsubishi Triton.
Untuk varian double cabin 4×4, Toyota Hilux dipasarkan dengan harga mulai sekitar Rp456,3 juta hingga Rp545,9 juta. Sementara Mitsubishi Triton 4×4 dibanderol mulai kisaran Rp380 juta hingga Rp550 juta, tergantung tipe dan spesifikasi.
Adapun dari India, salah satu model yang pernah dipasarkan di Indonesia adalah Mahindra Scorpio Pik Up. Model ini dijual dalam varian single cabin dan double cabin.
Berdasarkan informasi di laman resmi Mahindra Indonesia, Scorpio Pik Up single cabin dipasarkan sekitar Rp278 juta, sedangkan varian double cabin sekitar Rp318 juta. Harga tersebut terpaut cukup jauh dibandingkan model 4×4 dari Jepang.
Selain itu, terdapat pula model seperti Tata Yodha dan Tata Ultra T.7 yang diproduksi Tata Motors. Di pasar India, kendaraan sekelas ini umumnya dipasarkan di kisaran Rp300 jutaan, meski harga resmi di Indonesia tidak dipublikasikan secara terbuka.
Rencana impor dalam jumlah besar tersebut menuai kritik dari sejumlah pihak. Mereka menilai industri otomotif nasional memiliki kapasitas untuk memproduksi kendaraan pikap dalam jumlah besar, sehingga kebijakan impor berpotensi menekan produsen dalam negeri.
Di sisi lain, faktor efisiensi harga menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan, terutama untuk kebutuhan operasional skala besar. Perbandingan harga ini menjadi sorotan karena menyangkut daya saing industri otomotif nasional, kebijakan impor, serta keberlanjutan produksi kendaraan komersial di dalam negeri.
- Penulis: syaiful amri


Saat ini belum ada komentar