Selasa, 11 Agu 2026
light_mode
Beranda » Nasional » IHSG Dibuka Melemah, Imbas Sentimen Royalti Energi dan Geopolitik

IHSG Dibuka Melemah, Imbas Sentimen Royalti Energi dan Geopolitik

  • account_circle -
  • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAMBISNIS.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan perdagangan Senin (!!/5/2026) dibuka melemah 9,46 poin atau sekitar 0,14 persen ke level 6.959,94.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menilai laju pergerakan IHSG selama tiga hari perdagangan ke depan akan banyak dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global dan kebijakan tarif royalti komoditas.

Sebagai informasi, perdagangan pekan ini berlangsung lebih singkat karena adanya libur nasional dan cuti bersama Kenaikan Yesus Kristus pada 14-15 Mei 2026.

“Baru-baru ini Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan keyakinannya bahwa perang Ukraina akan segera berakhir. Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa jam setelah ia berpidato menegaskan tekad kemenangan Rusia dalam perayaan Hari Kemenangan di Moskow yang berlangsung lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya,” kata Hari dikutip dari Antara.

Kemudian, kekhawatiran terkait potensi wabah hantavirus sejauh ini belum terlalu mengganggu pasar. Data dari platform prediksi Kalshi menunjukkan probabilitas wabah hantavirus menjadi ancaman serius tahun ini hanya sebesar 21 persen.

Angka tersebut mengindikasikan pelaku pasar belum menganggap isu itu sebagai risiko signifikan.
Di sisi lain, perhatian pasar global kini tertuju pada pertemuan puncak antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, dengan isu perang Iran diperkirakan mendominasi agenda pembahasan.

“Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang negosiasi untuk isu-isu krusial lainnya seperti tarif perdagangan dan pasokan rare earth, sehingga ketidakpastian pada dua isu tersebut kemungkinan masih akan bertahan dalam waktu dekat,” jelas Hari.

Sementara itu, dari sisi domestik, terdapat sejumlah agenda dan perkembangan kebijakan yang perlu dicermati pelaku pasar dalam waktu dekat.

“Rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026 kemungkinan tidak menghadirkan pendatang baru, namun tetap berpotensi memicu pergeseran bobot saham yang dapat mempengaruhi arah pergerakan pasar secara keseluruhan,” ujarnya.

Dari sisi kebijakan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menggelar sidang dengar pendapat pada 8 Mei 2026 terkait usulan perubahan tarif royalti untuk komoditas tembaga, timah, nikel, emas dan perak.

Menurut Hari, kebijakan tersebut bukan lagi sekadar wacana karena ditargetkan mulai berlaku pada Juni 2026.

Ia menjelaskan, dari seluruh komoditas yang terdampak, emas mencatatkan kenaikan tarif paling signifikan secara persentase di batas bawah hingga mencapai 100 persen.

Kondisi itu dinilai memberikan tekanan langsung di tengah harga emas global yang masih berada di level tinggi.

Sementara, timah dinilai menjadi komoditas yang paling terpukul secara keseluruhan karena kenaikan tarif terjadi pada kedua ujung rentang royalti sekaligus.

“Yang perlu menjadi perhatian lebih lanjut, tekanan terhadap sektor minerba tidak berhenti pada kenaikan royalti semata. Wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax yang tengah dikaji Kementerian Keuangan turut menambah lapisan ketidakpastian, khususnya bagi subsektor nikel dan batu bara, sehingga volatilitas sektor minerba secara keseluruhan berpotensi bertahan dalam jangka pendek,” katanya.

Mempertimbangkan keseluruhan lanskap sentimen yang terbentuk sepanjang pekan ini, Hari menilai pergerakan IHSG pada periode 11-13 Mei 2026 berpotensi bergerak mixed dengan kecenderungan terbatas.

Agenda rebalancing MSCI pada 12 Mei dinilai berpotensi memicu rotasi portofolio yang menciptakan volatilitas jangka pendek pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Di saat yang sama, bayang-bayang kebijakan kenaikan royalti mineral yang ditargetkan berlaku mulai Juni 2026, disertai wacana bea ekspor dan windfall tax diperkirakan akan terus menekan saham-saham sektor pertambangan dan energi secara struktural.

Dengan investor asing yang masih mencatatkan net sell dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang meyakinkan, penguatan indeks dinilai akan sangat bergantung pada kekuatan aliran dana domestik serta kemampuan saham-saham big caps di luar sektor minerba dalam mengimbangi tekanan pasar.

Hari memandang kondisi tersebut menjadikan selektivitas sektor sebagai kunci utama navigasi portofolio pada pekan ini.

“Dalam kondisi ini investor disarankan untuk tetap selektif dengan pendekatan trading-oriented, memanfaatkan momentum pada sektor-sektor yang kuat, namun tetap disiplin dalam manajemen risiko, mengingat volatilitas pasar yang masih relatif tinggi serta potensi perubahan sentimen yang cepat,” sarannya.(*)

 

  • Penulis: -
  • Editor: Darmanto Zebua

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ambruk di Penutupan! Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.966

    Ambruk di Penutupan! Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.966

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah ditutup melemah 127,5 poin atau 0,71 persen menjadi Rp17.966 per dolar AS pada perdagangan Rabu (3/6/2026) sore. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS itu dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Dari eksternal, investor masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Ketegangan meningkat […]

  • Citibank: AI Bisa Dongkrak Laba Industri Perbankan Global hingga Rp33,46 Kuadriliun pada 2028

    Citibank: AI Bisa Dongkrak Laba Industri Perbankan Global hingga Rp33,46 Kuadriliun pada 2028

    • calendar_month Senin, 27 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – CEO Citibank, N.A., Indonesia (Citi Indonesia) Batara Sianturi mengungkapkan bahwa penerapan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berpotensi meningkatkan laba industri perbankan global hingga mencapai 2 triliun dolar AS atau setara Rp33,46 kuadriliun (kurs Rp16.728) dalam tiga tahun ke depan. “Riset Citi menunjukkan bahwa kecerdasan buatan akan menjadi salah satu kekuatan utama di era ini. […]

  • Jelang Hari Raya Kurban, Harga Sapi Melonjak Hingga Rp30 Juta per Ekor

    Jelang Hari Raya Kurban, Harga Sapi Melonjak Hingga Rp30 Juta per Ekor

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga hewan kurban di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mulai merangkak naik menjelang Hari Raya Idul Adha 2026. Kenaikan paling signifikan terjadi pada sapi, yang mengalami lonjakan hingga Rp3 juta per ekor dalam sepekan terakhir. Di Pasar Patok, salah satu pusat perdagangan ternak di Lumajang, aktivitas jual beli terpantau meningkat. Pedagang menyebut lonjakan harga […]

  • HUT ke-69 Provinsi Jambi, Ketua DPRD M Hafiz Fattah Ajak Warga Teladani Semangat Para Tokoh Pendiri

    HUT ke-69 Provinsi Jambi, Ketua DPRD M Hafiz Fattah Ajak Warga Teladani Semangat Para Tokoh Pendiri

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Ketua DPRD Provinsi Jambi M Hafiz Fattah mengajak seluruh masyarakat untuk kembali mengingat dan meresapi semangat para tokoh pendiri Provinsi Jambi dalam momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 Provinsi Jambi, Selasa (6/1/2026). Ajakan tersebut disampaikan Hafiz saat membuka rapat paripurna istimewa DPRD Provinsi Jambi yang digelar di ruang rapat paripurna DPRD Provinsi […]

  • Harga Cabai Merah dan Ayam Broiler di Pasar Talang Banjar dan Kasang Turun

    Harga Cabai Merah dan Ayam Broiler di Pasar Talang Banjar dan Kasang Turun

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Pergerakan harga kebutuhan pokok di Kota Jambi terpantau relatif stabil. Berdasarkan data Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Jambi, mayoritas harga sembako di Pasar Rakyat Talang Banjar dan Pasar Rakyat Kasang tidak mengalami perubahan signifikan per Jumat (21/2/2026). Di Pasar Talang Banjar, harga beras masih bertahan di kisaran Rp 15.200 hingga Rp 15.400 per […]

  • Defisit APBN Maret 2026 Capai Rp240,1 Triliun, Pemerintah Jaga Batas 3 Persen dari PDB

    Defisit APBN Maret 2026 Capai Rp240,1 Triliun, Pemerintah Jaga Batas 3 Persen dari PDB

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Pemerintah melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit sebesar Rp240,1 triliun hingga akhir Maret 2026. Nilai tersebut setara dengan 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan defisit terjadi karena realisasi belanja negara lebih besar dibandingkan pendapatan. “Defisit mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB,” […]

expand_less