Selasa, 11 Agu 2026
light_mode
Beranda » Regional » Jangan Dianggap Sepele! Kemarau Mulai Gerus Sumber Air Jambi

Jangan Dianggap Sepele! Kemarau Mulai Gerus Sumber Air Jambi

  • account_circle say say
  • calendar_month 0 menit yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAMBISNIS.COM – Musim kemarau 2026 mulai memberikan tekanan terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah Provinsi Jambi. Bukan hanya suhu udara yang meningkat dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membesar, sumber air baku untuk kebutuhan masyarakat juga mulai menghadapi tekanan.

Di Kota Jambi, kondisi Sungai Batanghari yang menjadi sumber utama air baku Perumda Tirta Mayang mulai menjadi perhatian. Sementara di Kota Sungai Penuh, debit air baku Perumda Tirta Khayangan dilaporkan turun sekitar 40 persen dari kondisi normal.

Ancaman kekeringan juga mulai dipetakan di Kabupaten Muaro Jambi. Puluhan desa masuk wilayah rawan kekeringan sehingga pemerintah daerah menyiapkan langkah antisipasi distribusi air bersih.

Kondisi tersebut terjadi ketika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengingatkan bahwa musim kemarau 2026 berpotensi berlangsung lebih kering akibat pengaruh El Nino.

BMKG dalam pemutakhiran prediksi musim kemarau 2026 menyebut sejumlah wilayah Jambi mengalami perubahan waktu puncak musim kemarau.

Dalam dokumen pemutakhiran Juni 2026, beberapa Zona Musim (ZOM) di Jambi tercatat mengalami puncak kemarau pada Juli, lebih cepat dari prediksi sebelumnya yang memperkirakan puncak terjadi pada Agustus.

BMKG juga menyatakan kondisi El Nino menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan potensi kondisi lebih kering dan mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah.

Pada akhir Juli 2026, BMKG kembali mengingatkan bahwa fenomena El Nino diperkirakan bertahan setidaknya hingga beberapa bulan ke depan dan meminta berbagai sektor memperkuat mitigasi menghadapi kondisi kemarau.

Sektor sumber daya air menjadi salah satu sektor yang perlu meningkatkan kewaspadaan karena berkurangnya hujan dapat berdampak terhadap ketersediaan air permukaan maupun sumber air masyarakat.

Tekanan terhadap sumber air baku mulai diantisipasi Perumda Tirta Mayang Kota Jambi. Pada Juli lalu, Direktur Utama Perumda Tirta Mayang Arianto mengatakan pihaknya telah menyiapkan berbagai langkah teknis untuk menghadapi potensi penurunan debit Sungai Batanghari akibat musim kemarau.

Tirta Mayang saat itu menyebut memiliki sekitar 108.000 pelanggan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengeruk sedimentasi di area intake. Ketika permukaan sungai turun, endapan lumpur berpotensi meningkat dan menghambat proses pengambilan air baku.

Perusahaan juga memindahkan sejumlah titik pipa penyedot air baku ke lokasi yang memiliki debit lebih besar.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa penurunan muka air Batanghari telah menjadi bagian dari skenario mitigasi pelayanan air bersih Kota Jambi.

Kualitas air baku juga dapat menjadi tantangan tersendiri ketika kondisi sungai berubah.

Perumda Tirta Mayang sebelumnya pernah menghadapi lonjakan kekeruhan air baku Batanghari hingga lebih dari 1.000 NTU. Dalam kondisi seperti itu, perusahaan harus menyesuaikan produksi dan distribusi agar kualitas air yang diterima pelanggan tetap terjaga.

Karena itu, kondisi Batanghari selama puncak kemarau menjadi salah satu faktor penting yang perlu terus dipantau.

Tekanan lebih nyata dilaporkan terjadi di Kota Sungai Penuh. Perumda Tirta Khayangan menyebut debit air baku turun sekitar 40 persen dibandingkan kondisi normal akibat musim kemarau.

Penurunan debit tersebut berdampak terhadap pola distribusi air bersih kepada masyarakat. Sejumlah wilayah pelayanan harus mendapatkan penyesuaian distribusi agar pasokan yang tersedia dapat dibagi secara merata.

Kondisi ini menjadi gambaran bahwa dampak kemarau tidak hanya dirasakan wilayah perkotaan yang bergantung pada sungai besar seperti Batanghari, tetapi juga daerah yang mengandalkan sumber air baku lokal.

BPBD Muaro Jambi pada akhir Juli 2026 menetapkan 45 desa yang tersebar di sembilan kecamatan sebagai wilayah rawan kekeringan.

Sembilan kecamatan tersebut yakni Mestong, Bahar Selatan, Bahar Utara, Kumpeh Ulu, Sungai Gelam, Kumpeh, Taman Rajo, Maro Sebo dan Jambi Luar Kota.

Pemetaan dilakukan sebagai langkah antisipasi agar pemerintah dapat bergerak cepat apabila masyarakat mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

BPBD Muaro Jambi juga menyiapkan distribusi air menggunakan mobil tangki apabila kondisi di lapangan mulai menunjukkan adanya krisis air bersih.

Masyarakat diminta menggunakan air secara bijak dan segera melapor apabila mulai mengalami kesulitan memperoleh air.

Kemarau panjang di Jambi juga membawa persoalan lain, yakni meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

BMKG sebelumnya mengingatkan bahwa rendahnya curah hujan dapat membuat kondisi lahan, terutama kawasan gambut, semakin mudah terbakar.

Dalam pemantauan BMKG, Muaro Jambi menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian khusus terkait kondisi gambut. Sejumlah stasiun pemantauan menunjukkan tinggi muka air tanah berada pada kategori rawan hingga bahaya. Artinya, kemarau memiliki efek berantai.

Ketika hujan berkurang, debit sungai dapat turun. Ketika sumber air menyusut, kebutuhan air masyarakat meningkat. Pada saat bersamaan, lahan yang semakin kering meningkatkan potensi karhutla. Jika tidak diantisipasi, tekanan terhadap sumber daya air dapat semakin besar.

Kondisi di Kota Jambi, Sungai Penuh dan Muaro Jambi menjadi peringatan bahwa persoalan air bersih harus diantisipasi sebelum berubah menjadi krisis.

Perumda air minum perlu memastikan sumber air baku tetap dapat diakses selama debit sungai menurun. Pemerintah daerah juga perlu menyiapkan distribusi air tangki untuk wilayah yang mulai mengalami kekeringan.

Di sisi lain, masyarakat memiliki peran penting dengan menghemat penggunaan air dan menjaga sumber-sumber air yang masih tersedia.

Ancaman kemarau tahun ini juga perlu dilihat sebagai momentum untuk memperkuat ketahanan air Jambi.

Sebab, ketika hujan berkurang, sungai menyusut dan kebutuhan air tetap meningkat, setiap tetes air menjadi semakin berharga.

BMKG sendiri telah memberikan sinyal kewaspadaan terhadap kondisi kemarau dan pengaruh El Nino. Dengan puncak kemarau yang terjadi di sejumlah wilayah Jambi sejak Juli, pemerintah dan masyarakat tidak bisa hanya menunggu hujan turun.

  • Penulis: say say

Rekomendasi Untuk Anda

  • Said Iqbal Terima Aturan Baru UMP 2026, Demo Buruh di Istana Ditunda

    Said Iqbal Terima Aturan Baru UMP 2026, Demo Buruh di Istana Ditunda

    • calendar_month Rabu, 17 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyatakan menerima aturan baru penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) 2026 yang ditetapkan pemerintah. Seiring dengan itu, aksi demonstrasi buruh yang semula direncanakan berlangsung di depan Istana Negara pada Jumat (19/12/2025) resmi ditunda. Said Iqbal mengatakan, penerimaan tersebut diberikan dengan catatan […]

  • Emas Antam Terseok, Turun Rp17.000 Hari Ini

    Emas Antam Terseok, Turun Rp17.000 Hari Ini

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga emas Antam terseok pada perdagangan Kamis (5/2/2026). Turun sebesar Rp 17.000 ke level Rp 2.956.000 dari semula Rp2.973.000 per gram. Sementara, untuk harga beli kembali (buyback) emas Antam ikut terkoreksi Rp17.000 sehingga menjadi Rp2.720.000 per gram. Harga buyback ini adalah jika Anda ingin menjual emas, Antam akan membelinya di harga Rp 2.720.000 […]

  • Harga Emas Pegadaian Stagnan,  Antam Tembus Rp2,908 Juta per Gram

    Harga Emas Pegadaian Stagnan, Antam Tembus Rp2,908 Juta per Gram

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga emas di Pegadaian terpantau tidak mengalami perubahan pada perdagangan Senin (4/5/2026). Tiga produk logam mulia utama, yakni dari Antam, UBS, dan Galeri24 kompak bertahan di level harga sebelumnya. Berdasarkan data yang diperoleh Jambisnis.com dari laman resmi Sahabat Pegadaian, emas cetakan Antam dipatok sebesar Rp2.908.000 per gram. Sementara itu, emas UBS berada di […]

  • IHSG Rebound Kuat ke 8.122, Transaksi Tembus Rp28,7 Triliun

    IHSG Rebound Kuat ke 8.122, Transaksi Tembus Rp28,7 Triliun

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dan ditutup menguat pada perdagangan Selasa (3/2/2026), meski sempat dibuka di zona merah dan melemah tajam pada awal sesi. Berdasarkan data RTI Infokom, IHSG ditutup naik 2,52 persen ke level 8.122, yang sekaligus menjadi level tertinggi sepanjang perdagangan hari ini. Sementara itu, level terendah IHSG sempat […]

  • Menguat Tipis, Rupiah Menjadi Rp16.618 per Dolar AS Pagi Ini

    Menguat Tipis, Rupiah Menjadi Rp16.618 per Dolar AS Pagi Ini

    • calendar_month Selasa, 28 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah menguat tipis pada pembukaan perdagangan Selasa (28/10/2025). Rupiah dibuka dilevel Rp16.618 per dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah menguat sebesar 3 poin atau 0,02 persen dibanding penutupan pada hari sebelumnya yang berada di level Rp 16.621 per dolar AS. Sementara itu, dolar AS mengalami depresiasi sebesar 0,11% menuju posisi 98,67. Pergerakan […]

  • Menkes Budi Gunadi Sadikin: Gunakan Label Nutri-Level, Pilih Makanan Sehat dari A hingga B

    Menkes Budi Gunadi Sadikin: Gunakan Label Nutri-Level, Pilih Makanan Sehat dari A hingga B

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat memanfaatkan label Nutri-Level sebagai panduan dalam memilih makanan dan minuman sehat. Label ini dinilai dapat membantu publik memahami kandungan nutrisi secara cepat dan sederhana. “Pastikan kalau makan dan minum, pilih yang sehat, utamakan kategori A dan B. Kalau D, sebaiknya dibatasi,” kata Budi dalam peluncuran sistem […]

expand_less