Bukan Cuma Hutan yang Hangus, Karhutla Ancam Lumpuhkan Ekonomi
- account_circle -
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Petugas melakukan pemadaman kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dan lahan (Karhutla).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Provinsi Jambi dan lainnya di tengah meningkatnya risiko El Nino tak hanya meninggalkan kerusakan ekologis. Dampaknya bisa menjalar jauh lebih luas ke sektor kesehatan, pendidikan, transportasi, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan, nilai kerugian ekonomi akibat karhutla tidak bisa hanya dihitung dari luas lahan atau hutan yang terbakar. Sebab, bencana memiliki efek berantai atau multiplier effect yang kerap baru terasa setelah kejadian berlangsung.
“Bencana mempunyai multiplier effect yang sering tidak terlihat pada hari pertama. Awalnya mungkin kebakaran lahan. Setelah itu muncul masalah kesehatan, aktivitas kerja terganggu, sekolah terganggu, transportasi terganggu dan pada akhirnya kegiatan ekonomi dan daya hidup masyarakat ikut melemah,” ujar Fakhrul dikutip dari Antara, Senin (24/8/2026).
Menurut dia, kabut asap menjadi salah satu dampak paling cepat dirasakan masyarakat. Memburuknya kualitas udara dapat meningkatkan gangguan pernapasan sekaligus menambah beban biaya kesehatan.
Tak berhenti di situ. Aktivitas pendidikan dan pekerjaan juga berpotensi terganggu. Ketika kualitas udara memburuk, produktivitas pekerja dapat menurun dan kegiatan sekolah bisa ikut terdampak.
Gangguan tersebut juga dapat merembet ke sektor transportasi dan logistik. Penerbangan berpotensi terganggu, distribusi barang tersendat, perdagangan lokal melemah, dan mobilitas masyarakat menjadi terbatas.
Di daerah yang menggantungkan perekonomian pada sektor pertanian, kondisi kering berkepanjangan juga menjadi ancaman tersendiri. Berkurangnya ketersediaan air dapat memengaruhi produksi pangan dan pendapatan petani.
Jika berlangsung lama, kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap harga pangan.
Fakhrul menilai, pencegahan bencana karena itu harus dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga roda perekonomian. Menurutnya, keberhasilan anggaran kebencanaan justru sering terlihat dari bencana yang berhasil dicegah.
“Ketika kebakaran berhasil dikendalikan sebelum meluas, maka tidak ada aktivitas ekonomi yang berhenti,” jelasnya.
Begitu pula dengan sistem peringatan dini. Ketika early warning berjalan efektif, masyarakat dapat melakukan antisipasi lebih cepat. Ketersediaan logistik dan peralatan juga membuat respons dapat dilakukan tanpa harus menunggu kondisi memburuk.
Persoalannya, kerugian yang berhasil dicegah tersebut jarang terlihat dalam statistik ekonomi.
“Kita sering dapat menghitung biaya sebuah bencana setelah terjadi. Yang jauh lebih sulit dihitung adalah kerugian yang tidak jadi terjadi karena pencegahan bekerja. Padahal secara ekonomi nilainya bisa sangat besar,” kata Fakhrul.
Karena itu, prinsip mencegah sebelum mengobati dinilai memiliki logika ekonomi yang kuat. Biaya kesiapsiagaan relatif lebih mudah direncanakan dibandingkan biaya yang muncul ketika bencana sudah telanjur meluas.
Dalam konteks tersebut, Fakhrul menilai kapasitas anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) perlu diperkuat jika peningkatan risiko bencana membutuhkan kesiapan yang lebih besar.
Namun, dia menekankan bahwa persoalannya bukan sekadar seberapa besar anggaran yang tersedia. Yang lebih penting adalah memastikan kapasitas pencegahan dan respons benar-benar siap digunakan.
Prioritas perlu diarahkan pada kesiapsiagaan, pemantauan risiko, sistem peringatan dini, personel, logistik, pemeliharaan peralatan, koordinasi dengan BPBD, hingga kemampuan merespons secara cepat ketika titik api mulai muncul.
Fakhrul menyebut terdapat prinsip sederhana dalam pengelolaan risiko. Semakin besar peluang suatu kejadian dan semakin besar potensi kerugiannya, semakin penting pula kesiapan untuk menghadapinya.
“Ketika risiko El Nino dan karhutla meningkat, kapasitas penanggulangan bencana tidak seharusnya justru melemah,” tegasnya.
Dia berharap risiko El Nino dan karhutla tahun ini dapat dilewati dengan baik. Namun, harapan tersebut harus dibarengi kesiapan nyata.
“Kita tentu berharap risiko El Nino dan karhutla tahun ini dapat dilewati dengan baik. Tetapi harapan harus disertai kesiapan. Karena biaya pencegahan hampir selalu lebih kecil dibandingkan biaya ekonomi, kesehatan dan sosial ketika sebuah bencana sudah terlanjur membesar,” pungkas Fakhrul.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua
