Kualitas Udara Jambi Memburuk, Asap Karhutla Mulai Ancam Aktivitas Ekonomi
- account_circle say say
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

Karhutla di Jambi masih berlangsung, lahan gambut menjadi pemicu kebakaran lahan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi belum sepenuhnya terkendali. Memasuki pertengahan Agustus 2026, dampaknya mulai terasa pada kualitas udara. Kondisi ini tak hanya menjadi persoalan lingkungan dan kesehatan, tetapi juga berpotensi menekan aktivitas ekonomi masyarakat.
Data terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan kualitas udara di sejumlah wilayah Jambi sempat berada pada level yang perlu diwaspadai. BMKG menggunakan konsentrasi PM2.5 sebagai salah satu indikator kualitas udara dan mengategorikan kondisi berdasarkan tingkat paparannya.
Sementara itu, pemantauan IQAir pada pertengahan Agustus menunjukkan kualitas udara Kota Jambi sempat masuk kategori tidak sehat. Pada salah satu pemantauan pagi hari, AQI US mencapai 166 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 77,5 mikrogram per meter kubik.
Berdasarkan laporan terbaru, luas karhutla yang telah terdata di Provinsi Jambi mencapai lebih dari 300 hektare pada 12 Agustus 2026. Angka itu masih berpotensi bertambah karena proses pemadaman dan pendinginan di sejumlah lokasi masih berlangsung.
Muaro Jambi menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian. Kebakaran di kawasan gambut membuat proses pemadaman lebih sulit karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah.
Kementerian Kehutanan pada 15 Agustus juga memperkuat koordinasi dengan Satgas Karhutla Jambi. Penguatan dilakukan melalui patroli udara, pemantauan wilayah rawan serta dukungan kepada personel Manggala Agni di lapangan.
Dampak karhutla mulai terasa di Kota Jambi. Kabut asap dilaporkan mulai terlihat, sementara aroma asap juga dirasakan masyarakat.
Pemerintah Provinsi Jambi bahkan telah membuka kemungkinan mengeluarkan kebijakan terkait aktivitas sekolah apabila kualitas udara terus memburuk. Pemprov juga mempertimbangkan imbauan penggunaan masker bagi masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa karhutla tidak lagi sebatas persoalan di lokasi kebakaran. Ketika asap bergerak mengikuti arah angin, wilayah perkotaan yang jauh dari titik api pun dapat terkena dampaknya.
Persoalan kualitas udara menjadi semakin penting jika dikaitkan dengan kondisi ekonomi Jambi. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan I 2026 tumbuh 4,33 persen secara tahunan. Sementara sepanjang 2025, ekonomi Jambi tumbuh 4,93 persen. Salah satu sektor dengan pertumbuhan tertinggi adalah transportasi dan pergudangan yang tumbuh 8,88 persen.
Artinya, aktivitas mobilitas barang dan manusia menjadi salah satu bagian penting dalam perekonomian Jambi.
Jika kabut asap bertahan lama, sektor transportasi berpotensi menghadapi gangguan. Jarak pandang yang menurun dapat memengaruhi perjalanan darat maupun aktivitas penerbangan. Distribusi barang juga berpotensi mengalami keterlambatan apabila kondisi lingkungan tidak mendukung.
Dampaknya kemudian dapat merembet ke perdagangan, kuliner, jasa transportasi hingga UMKM yang mengandalkan mobilitas masyarakat.
Ketika kualitas udara memburuk, sebagian masyarakat cenderung mengurangi aktivitas di luar rumah. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi kunjungan ke pasar, pusat kuliner, tempat wisata dan berbagai ruang publik.
Ancaman ekonomi akibat karhutla memang tidak selalu langsung terlihat dalam angka pertumbuhan ekonomi. Namun, gangguan terhadap mobilitas, produktivitas pekerja, kesehatan masyarakat dan distribusi barang dapat menciptakan biaya tambahan bagi rumah tangga maupun pelaku usaha.
Karena itu, pengendalian karhutla menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ekonomi Jambi.
Apalagi pemerintah pusat telah menetapkan Jambi sebagai salah satu provinsi prioritas penanganan karhutla bersama Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Hingga 9 Agustus 2026, luas lahan terbakar di enam provinsi tersebut mencapai sekitar 48.889 hektare.
Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, pencegahan dan pemadaman karhutla menjadi semakin krusial.
Sebab, menjaga Jambi dari asap bukan hanya soal membuat langit kembali cerah. Lebih dari itu, kualitas udara yang baik merupakan bagian dari menjaga kesehatan masyarakat, kelancaran aktivitas usaha dan momentum pertumbuhan ekonomi daerah.
- Penulis: say say
