IHSG dan Bursa Asia Anjlok Serentak, Harga Minyak Tembus US$119 per Barel akibat Konflik Timur Tengah
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Sen, 9 Mar 2026
- comment 0 komentar
JAMBISNIS.COM – Tekanan besar melanda pasar saham Asia pada awal pekan. Tidak hanya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sejumlah bursa utama di kawasan juga kompak anjlok seiring melonjaknya harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pada perdagangan Senin (9/3/2026), IHSG sempat terperosok hingga 5,41 persen atau turun 410,73 poin ke level 7.174. Indeks dibuka di posisi 7.374 sebelum langsung tertekan oleh aksi jual investor sejak awal sesi perdagangan.
Di Australia, indeks ASX 200 turun 3,29 persen ke level 8.559 dan ASX 300 melemah 3,26 persen ke posisi 8.503. Bursa Selandia Baru juga terdampak dengan indeks NZX 50 yang turun 3,21 persen.
Sementara di Asia Timur, indeks Shanghai Composite di China melemah sekitar 1,13 persen dan CSI 300 turun sekitar 1,65 persen. Bursa Hong Kong juga ikut terseret dengan indeks Hang Seng anjlok sekitar 2,54 persen dan HS China Enterprises turun 1,80 persen.
Tekanan bahkan lebih dalam terjadi di Jepang. Indeks Nikkei 225 tercatat jatuh sekitar 6,92 persen, menjadi penurunan paling tajam di kawasan Asia pada perdagangan hari ini. Di Asia Selatan, indeks Nifty India turun 2,94 persen dan Sensex merosot hampir 3 persen.
Harga minyak mentah Brent melonjak hingga sekitar US$119 per barel. Sementara minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) naik hingga sekitar US$118 per barel.
Kenaikan tajam ini terjadi setelah sejumlah produsen minyak Timur Tengah seperti Iran, Kuwait, dan Uni Emirat Arab memangkas produksi menyusul penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran pasar bahwa inflasi global akan kembali meningkat. Kondisi ini berpotensi menekan konsumsi masyarakat dan aktivitas bisnis di banyak negara.
Manajer portofolio Franklin Templeton, Nicholas Chui, menyebut kondisi pasar saat ini dipenuhi ketidakpastian. Menurutnya, lonjakan harga energi dan risiko konflik berkepanjangan membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko seperti saham.
“Jika melihat pergerakan harga di Asia, satu kata yang menggambarkannya adalah ketakutan. Investor saat ini tidak ingin terlalu terlibat di pasar,” ujarnya.
Sentimen negatif juga mulai menjalar ke pasar global. Kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat ikut melemah.
Dow Jones futures tercatat turun lebih dari 800 poin, sementara kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq-100 masing-masing turun sekitar 1,5 persen. Kondisi ini menandakan tekanan pasar global masih berpotensi berlanjut jika ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat.
- Penulis: syaiful amri


Saat ini belum ada komentar