Selasa, 22 Sep 2026
light_mode
Beranda » Ekonomi » OJK: Ketahanan Perbankan Indonesia Tetap Solid di Tengah Ketidakpastian Global

OJK: Ketahanan Perbankan Indonesia Tetap Solid di Tengah Ketidakpastian Global

  • account_circle Fitri Amalia
  • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAMBISNIS.COM – Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) triwulan I-2026 menunjukkan kinerja perbankan akan tetap solid dengan risiko yang terjaga. Survei dilakukan pada Januari 2026 dengan melibatkan 93 bank responden, yang porsi total asetnya mencapai sebesar 94,17 persen dari total aset bank umum berdasarkan periode data Desember 2025.

Keyakinan kinerja perbankan yang solid tecermin dari Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) pada triwulan I-2026 yang tercatat sebesar 56 (zona optimis). Optimisme tersebut didorong oleh proyeksi pertumbuhan kinerja perbankan, dan keyakinan bahwa bank masih akan cukup mampu mengelola risiko di tengah ekspektasi peningkatan inflasi dan pelemahan nilai tukar.

Prediksi akan melemahnya nilai tukar dan meningkatnya laju inflasi menarik ke bawah Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) pada triwulan I-2026 sehingga masuk ke zona pesimis (IKM=45).

Keyakinan peningkatan laju inflasi didorong oleh faktor musiman seperti bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri dan perayaan Tahun Baru Imlek sehingga meningkatkan kenaikan harga barang dan jasa.

Terdapat faktor low based effect dari tahun sebelumnya yang mana pada tahun lalu terdapat diskon tarif listrik yang tidak diberlakukan kembali pada triwulan I-2026.

Selanjutnya, nilai tukar diperkirakan melemah seiring dengan masih tingginya tensi geopolitik global. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan terakselerasi didorong oleh perkiraan peningkatan konsumsi masyarakat pada triwulan I-2026.

Mayoritas responden meyakini bahwa risiko perbankan pada triwulan I-2026 masih dapat terjaga dan terkendali.

Hal ini terlihat dari Indeks Persepsi Risiko (IPR) sebesar 57 atau berada pada zona optimis seiring dengan keyakinan bahwa kualitas kredit tetap terjaga baik, Posisi Devisa Netto (PDN) pada level rendah dengan aset dan tagihan valuta asing (valas) yang lebih besar dibandingkan kewajiban valas (long position).

Risiko likuiditas juga diperkirakan masih terjaga didorong ekspektasi alat likuid perbankan dan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang masih akan tumbuh.
Seiring dengan perkiraan pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dibandingkan perkiraan pertumbuhan penyaluran kredit, net cashflow pada triwulan I-2026 diperkirakan meningkat. Selain itu, cash inflow juga diperkirakan meningkat seiring dengan adanya dana Pemerintah Daerah yang mulai masuk pada triwulan I-2026.

Ekspektasi terhadap kinerja perbankan pada triwulan I-2026 juga berada pada level optimis dengan Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) sebesar 67. Optimisme pertumbuhan pada triwulan I-2026 didorong oleh ekspektasi bahwa kredit masih akan tumbuh seiring dengan meningkatnya permintaan kredit serta didukung dengan usaha bank dalam melakukan ekspansi kredit pada pipeline yang tersedia.

Industri pengolahan sebagai sektor ekonomi yang paling mendominasi penyaluran kredit perbankan, pada Januari 2026 tumbuh sebesar 6,60 persen (yoy), dan diproyeksikan tetap menjadi penggerak pertumbuhan kredit ke depan.

Dari sisi penghimpunan dana, responden memperkirakan bahwa pada triwulan I-2026, DPK juga diperkirakan tumbuh sejalan dengan usaha bank dalam memperoleh sumber dana untuk mendukung pertumbuhan kredit dan menjaga likuiditas.

“Hasil survei ini juga menunjukkan bahwa responden memiliki concern yang besar terhadap kondisi global yang terus berlangsung untuk jangka waktu yang lama (prolonged), dan bahkan memburuk, serta implikasi yang ditimbulkan terhadap kinerja ekonomi Indonesia. Meskipun berbagai indikator perbankan saat ini dalam posisi yang resilience, perbankan masih sangat membutuhkan ekosistem bisnis yang vibrant untuk dapat tumbuh dengan baik,” kata Dian.

Pada SBPO periode ini, OJK juga menghimpun informasi dari responden terkait outlook ekonomi global dan Indonesia Tahun 2026 serta pertumbuhan Kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Ekonomi global diperkirakan tumbuh moderat didorong oleh tingginya ketidakpastian dan geopolitik global.

Melihat perkembangan dalam waktu seminggu terakhir, saat ini tensi geopolitik semakin meningkat seiring dengan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke Teheran.

Dampak nyata dari konflik tersebut telah terasa pada pasar saham di Asia yang anjlok akibat aksi panic-selling di tengah kekhawatiran bahwa konflik dimaksud akan memicu inflasi dan menghantam ekonomi global.

Dampak lebih luas terhadap perekonomian global dan domestik mungkin terjadi apabila perang ini berlangsung lama.

“Belajar dari berbagai krisis yang pernah kita hadapi, situasi sulit seperti ini harus digunakan untuk memperkuat reformasi dalam semua sektor perekonomian. Beragam kebijakan ekonomi perlu dirumuskan secara terpadu (cohesive) dan selaras (coherence) guna mendorong kinerja yang semakin baik dan berkelanjutan (sustainable), sehingga mampu mendorong ekonomi Indonesia yang lebih dinamis dan berdaya saing,” tegas Dian.

Sementara itu, ekonomi Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan tumbuh tetap solid didorong oleh stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi domestik juga masih ditopang konsumsi rumah tangga dan manufaktur yang tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selanjutnya, sebagian besar bank responden optimis bahwa kredit UMKM pada triwulan I-2026 akan tumbuh dengan porsi yang meningkat dibandingkan total kredit.

OJK melaksanakan SBPO secara triwulanan untuk memperoleh gambaran dari industri perbankan tentang arah perekonomian, persepsi terhadap risiko perbankan, serta arah/tendensi bisnis perbankan pada triwulan mendatang.

SBPO menghasilkan suatu Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP), yaitu indeks komposit yang menunjukkan persepsi dengan rentang nilai 1 s.d. 100, di mana indeks >50 menunjukkan persepsi optimis, indeks =50 menunjukkan persepsi stabil, dan indeks <50 menunjukkan persepsi pesimis. IBP terdiri dari tiga subindeks yaitu Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM), Indeksi Persepsi Risiko (IPR) dan Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK).

Selain ketiga indeks tersebut, SBPO juga menghasilkan informasi lain yang sedang menjadi isu hangat pada industri perbankan serta hal-hal yang dianggap dapat berpengaruh terhadap kinerja perbankan. Secara historis, hasil survei SBPO cukup akurat dalam memprediksi arah dari beberapa indikator makroekonomi maupun perbankan di Indonesia.(*)

  • Penulis: Fitri Amalia

Rekomendasi Untuk Anda

  • Turnamen Catur Non-Master Seri 9 di Merangin Jadi Penentu Tiket Kejurnas Banten

    Turnamen Catur Non-Master Seri 9 di Merangin Jadi Penentu Tiket Kejurnas Banten

    • calendar_month Rabu, 16 Sep 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Setelah sukses menggelar Turnamen Catur Bulanan Non-Master Seri 8 di Paviliun JBC, Kota Jambi, Pengurus Provinsi Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Pengprov Percasi) Jambi kembali melanjutkan rangkaian kompetisi ke Seri 9. Turnamen tersebut dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Merangin pada 26–27 September 2026. Seri kesembilan menjadi momentum penting karena hasil pertandingan akan turut menentukan posisi […]

  • Rupiah Loyo Lagi, Terkoreksi ke Level Rp17.405 per Dolar AS

    Rupiah Loyo Lagi, Terkoreksi ke Level Rp17.405 per Dolar AS

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan Selasa (5/5/2026) pagi. Mata uang Garuda terkoreksi tipis di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi pasar keuangan. Rupiah berdasarkan data yang diperoleh Jambisnis.com dari Antara, tercatat melemah 11 poin atau sekitar 0,07 persen ke posisi Rp17.405 per dolar AS. Angka […]

  • Danantara Ambil Alih Ekspor Nikel, Industri Khawatir Kontrak Terganggu

    Danantara Ambil Alih Ekspor Nikel, Industri Khawatir Kontrak Terganggu

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) mulai 2026. Kebijakan ini digadang untuk menekan praktik manipulasi nilai ekspor, namun memicu kekhawatiran pelaku industri. Langkah tersebut merupakan bagian dari penataan ekspor komoditas strategis, menyasar praktik under invoicing dan transfer pricing yang selama ini dinilai menggerus penerimaan negara. Presiden Prabowo Subianto telah menerbitkan aturan tata kelola ekspor sumber […]

  • Harga Beras Premium Naik 10 Persen, BPS Ungkap Kondisi Harga di Penggilingan hingga Eceran

    Harga Beras Premium Naik 10 Persen, BPS Ungkap Kondisi Harga di Penggilingan hingga Eceran

    • calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga beras premium di tingkat penggilingan melonjak signifikan sepanjang Juli 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga beras premium naik 10,02 persen secara tahunan (year on year/yoy). Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kenaikan harga tersebut terjadi bersamaan dengan peningkatan harga beras pada kualitas lainnya. Secara keseluruhan, rata-rata harga […]

  • BMKG: Mayoritas Wilayah Provinsi Jambi Diguyur Hujan Ringan

    BMKG: Mayoritas Wilayah Provinsi Jambi Diguyur Hujan Ringan

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Badan Meteorologi mengeluarkan prakiraan cuaca untuk wilayah Provinsi Jambi pada Senin, 1 Desember, dengan gambaran umum dominan hujan ringan, kabut, serta tingkat kelembapan yang relatif tinggi di hampir seluruh kabupaten dan kota. Kondisi atmosfer yang labil disertai angin permukaan dengan kecepatan rendah hingga sedang membuat potensi hujan terjadi mulai pagi hingga malam hari. […]

  • Kadin Minta Pemerintah Perketat Impor demi Lindungi Industri Dalam Negeri

    Kadin Minta Pemerintah Perketat Impor demi Lindungi Industri Dalam Negeri

    • calendar_month Jumat, 12 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, meminta pemerintah memperketat kebijakan importasi untuk menjaga daya saing industri nasional. Ia menegaskan bahwa peningkatan pengawasan impor perlu menjadi prioritas agar industri dalam negeri tetap kompetitif di tengah tekanan global. Permintaan itu disampaikan Anindya saat melakukan audiensi dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. […]

expand_less