Hotspot Jambi Masih Tinggi, 75 Titik Terdeteksi dalam 24 Jam, Muaro Jambi dan Tanjab Barat Jadi Sorotan
- account_circle say say
- calendar_month 7 jam yang lalu
- print Cetak

FOTO/ILUSTRASI: Hospot Jambi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi masih perlu diwaspadai memasuki puncak musim kemarau 2026. Data terbaru yang dihimpun dari pemantauan titik panas menunjukkan aktivitas hotspot masih terdeteksi di wilayah Jambi. Berdasarkan data yang dipublikasikan dari pemantauan KLHK, Jambi mencatat 75 titik panas dalam periode 24 jam hingga Senin (10/8/2026). Angka tersebut menempatkan Jambi sebagai salah satu provinsi yang perlu mendapat perhatian dalam pengendalian karhutla.
Sementara itu, data BMKG Jambi menunjukkan jumlah hotspot yang lebih besar jika dilihat berdasarkan akumulasi periode. Sensor MODIS satelit Terra-Aqua mencatat 335 hotspot di Provinsi Jambi sepanjang 1–7 Agustus 2026. Pada Jumat (7/8/2026) saja, BMKG mencatat 123 hotspot dalam satu hari di Jambi.
Muaro Jambi menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak selama periode tersebut, yakni 98 titik. Berikutnya Sarolangun dengan 65 titik, Merangin 54 titik, Tanjung Jabung Barat 51 titik, Tebo 24 titik, Batanghari 20 titik, Bungo 14 titik, Tanjung Jabung Timur tujuh titik dan Kerinci dua titik. Sementara Kota Jambi dan Kota Sungai Penuh tidak tercatat memiliki hotspot dalam pemantauan BMKG untuk periode 1–7 Agustus tersebut.
Jika dilihat dalam periode yang lebih panjang, BMKG mencatat terdapat 2.340 hotspot di Provinsi Jambi sejak 1 Januari hingga 7 Agustus 2026. Kabupaten Tanjung Jabung Barat menjadi daerah dengan akumulasi hotspot tertinggi, yakni 566 titik. Selanjutnya Muaro Jambi mencatat 523 titik, Sarolangun 418 titik, Merangin 298 titik, Tebo 146 titik, Batanghari 127 titik, Tanjung Jabung Timur 113 titik, Bungo 110 titik, dan Kerinci 31 titik.
Untuk wilayah perkotaan, Kota Jambi tercatat hanya 7 hotspot, sedangkan Sungai Penuh 1 hotspot dalam akumulasi periode tersebut. Data tersebut memperlihatkan bahwa konsentrasi hotspot Jambi lebih banyak berada di kawasan kabupaten yang memiliki wilayah perkebunan, hutan, semak belukar maupun lahan gambut.
Dari data akumulasi BMKG, Tanjung Jabung Barat dan Muaro Jambi menjadi dua wilayah yang paling menonjol. Tanjung Jabung Barat berada di posisi pertama dengan 566 hotspot, sedangkan Muaro Jambi berada di posisi kedua dengan 523 hotspot.
Namun, jika melihat kondisi khusus pada awal Agustus, Muaro Jambi justru menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak. Dari 335 hotspot yang terdeteksi sepanjang 1–7 Agustus, sebanyak 98 titik berada di Muaro Jambi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena BMKG Jambi juga melaporkan adanya kebakaran kebun dan areal hutan di kawasan Sungai Gelam, Muaro Jambi. Asap dari kawasan tersebut bahkan dilaporkan bergerak memasuki wilayah Kota Jambi akibat arah angin dari tenggara.
Data lain yang disampaikan Sekretariat Bersama Pengelolaan Sumber Daya Hutan (Sekber PSDH) Jambi berdasarkan pemantauan satelit Aqua/Terra dan Suomi NPP mencatat 1.463 hotspot sepanjang Januari-Juni 2026.
Pada periode tersebut, Tanjung Jabung Barat mencatat 451 hotspot, Muaro Jambi 339 titik, Sarolangun 199 titik, Merangin 138 titik, Tanjung Jabung Timur 99 titik, Tebo 84 titik, Batanghari 71 titik, Bungo 53 titik, Kerinci 21 titik, Kota Jambi tujuh titik dan Sungai Penuh satu titik. Selain jumlah hotspot, luas lahan terbakar hingga semester pertama 2026 dilaporkan mencapai sekitar 137,72 hektare.
Perbedaan angka hotspot antara satu laporan dan laporan lainnya tidak otomatis menunjukkan adanya kesalahan data. Hotspot merupakan indikator anomali panas yang terdeteksi satelit, bukan angka pasti jumlah kebakaran. Data dapat berbeda karena menggunakan satelit, sensor, tingkat kepercayaan, waktu pengamatan dan periode penghitungan yang berbeda. Karena itu, hotspot harus dipahami sebagai indikasi awal yang perlu diverifikasi di lapangan.
Sistem SiPongi+ Kementerian Kehutanan sendiri menyediakan pemantauan hotspot terkini dan informasi terkait kebakaran hutan sebagai bagian dari sistem pemantauan karhutla nasional. Dalam pembaruan yang terindeks pada 10 Agustus 2026, SiPongi+ juga menunjukkan adanya hotspot terbaru yang terdeteksi di wilayah Bungo, Jambi melalui NASA-MODIS.
BMKG memprediksi risiko karhutla meningkat sejak Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Jambi termasuk salah satu dari lima provinsi yang menjadi prioritas peningkatan pemantauan dan pengawasan karhutla bersama Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. BMKG juga menyatakan fenomena El Niño kuat pada 2026 berpotensi membuat musim kemarau lebih kering dan meningkatkan risiko kekeringan serta karhutla.
Meski Kota Jambi dapat terdampak asap, data hotspot menunjukkan kota ini bukan wilayah dengan jumlah titik panas tinggi. Dalam data BMKG 1 Januari-7 Agustus 2026, Kota Jambi hanya tercatat 7 hotspot, jauh di bawah Tanjung Jabung Barat, Muaro Jambi dan Sarolangun. Karena itu, posisi Kota Jambi lebih tepat disebut sebagai wilayah yang berpotensi terdampak asap dari daerah sekitar, bukan sebagai salah satu daerah dengan hotspot tertinggi.
Sumber data: BMKG, KLHK/SiPongi+, Sekber PSDH Jambi, serta pemantauan satelit Terra-Aqua, Aqua/Terra, Suomi NPP, MODIS dan NASA-MODIS.
- Penulis: say say
