Harga Minyak Dunia Naik 5 Persen Usai AS Jatuhkan Sanksi ke Dua Raksasa Energi Rusia
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Jum, 24 Okt 2025
- comment 0 komentar

JAMBISNIS.COM – Harga minyak dunia melonjak tajam hingga lebih dari 5 persen pada perdagangan Kamis (23/10/2025) waktu setempat. Lonjakan ini dipicu oleh keputusan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kembali menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap dua perusahaan minyak terbesar asal Rusia, yakni Rosneft dan Lukoil.
Langkah ini diambil karena Washington menilai Moskow belum menunjukkan komitmen serius terhadap proses perdamaian untuk mengakhiri perang di Ukraina. Mengutip laporan CNBC, pada Jumat (24/10/2025), harga minyak Brent naik USD 3,4 atau 5,43 persen menjadi USD 65,99 per barel. Sementara harga minyak mentah AS (WTI) juga melonjak USD 3,29 atau 5,62 persen ke level USD 61,79 per barel.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan bahwa sanksi baru ini merupakan bentuk tekanan agar Rusia segera menghentikan agresinya di Ukraina.
“Sekaranglah saatnya untuk menghentikan pembunuhan dan untuk gencatan senjata. Departemen Keuangan siap mengambil tindakan lebih lanjut jika diperlukan untuk mendukung upaya Presiden Trump mengakhiri perang ini,” ujar Bessent.
Ia juga menyerukan kepada sekutu Amerika Serikat untuk ikut mematuhi sanksi ini agar dampaknya terhadap perekonomian Rusia semakin kuat. Departemen Keuangan AS menyebut, pembatasan baru tersebut akan menghambat kemampuan Kremlin dalam mengumpulkan pendapatan untuk membiayai operasi militer di Ukraina. Selain terhadap Rusia, Trump juga dikabarkan menekan India agar menghentikan impor minyak dari Moskow. Saat ini, India menjadi salah satu pembeli terbesar minyak mentah Rusia, terutama setelah konflik Ukraina meletus.
Kebijakan sanksi terbaru AS ini langsung mengguncang pasar energi global. Pasalnya, Rusia merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia, dan setiap gangguan terhadap pasokan mereka bisa memicu lonjakan harga secara signifikan. Sebelum pengumuman sanksi, harga minyak mentah dunia sempat melemah sepanjang tahun 2025. Harga minyak mentah AS turun sekitar 16 persen, sedangkan Brent turun hampir 14 persen.
Namun, kebijakan baru ini membalikkan tren tersebut. Investor kini mencermati dampak jangka panjang sanksi terhadap pasokan minyak global, terutama karena OPEC+ yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia telah meningkatkan produksi dalam beberapa bulan terakhir. Selain konflik geopolitik, ketegangan dagang antara AS dan beberapa negara juga turut menekan sentimen pasar. Tarif perdagangan yang diberlakukan Presiden Trump menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar energi.
Beberapa analis menilai, kenaikan harga minyak kali ini bisa bersifat sementara jika OPEC+ merespons dengan meningkatkan produksi. Namun, jika konflik Rusia–AS berlanjut dan pasokan terganggu lebih lama, harga minyak dunia bisa menembus USD 70 per barel dalam waktu dekat. Kenaikan harga minyak dunia memberi sinyal kuat bahwa pasar energi global sangat sensitif terhadap ketegangan geopolitik. Investor kini menunggu langkah lanjutan dari AS dan sekutunya, serta potensi reaksi balasan dari Rusia.
Beberapa pengamat memperkirakan harga minyak akan tetap berada di kisaran tinggi dalam jangka menengah, mengingat permintaan energi global masih stabil di tengah pemulihan ekonomi dunia.
- Penulis: syaiful amri

Saat ini belum ada komentar