Direstui AS, India Borong 20 Juta Barel Minyak Rusia lewat Pengiriman Kilat
- account_circle syaiful amri
- calendar_month 21 jam yang lalu
- comment 0 komentar

India Borong Minyak Rusia setelah Dapat Izin Sementara dari AS
JAMBISNIS.COM – emerintah India bergerak cepat mengamankan pasokan energi dengan membeli jutaan barel minyak mentah Rusia setelah mendapat dispensasi sementara dari Amerika Serikat.
Departemen Keuangan AS memberikan pengecualian selama 30 hari yang memungkinkan perusahaan pengolahan minyak India mengimpor minyak dari Rusia. Kebijakan ini diambil untuk menjaga pasokan minyak global di tengah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan dispensasi tersebut bersifat sementara.
“Untuk memastikan minyak tetap mengalir ke pasar global, Departemen Keuangan mengeluarkan pengecualian sementara selama 30 hari,” kata Bessent seperti dikutip Reuters pada Kamis, 5 Maret 2026.
Ia menambahkan kebijakan itu tidak akan memberikan keuntungan finansial besar bagi pemerintah Rusia karena hanya mencakup transaksi minyak yang sudah tertahan di laut.
Menurut sumber Reuters, perusahaan yang terlibat antara lain Indian Oil Corporation, Bharat Petroleum, Hindustan Petroleum, serta Mangalore Refinery and Petrochemicals Limited.
Keempat perusahaan itu disebut tengah mengatur pengiriman segera sekitar 20 juta barel minyak mentah Rusia. Hindustan Petroleum dan Mangalore Refinery tercatat terakhir mengimpor minyak Rusia pada November 2025. India termasuk negara yang sangat bergantung pada impor energi. Cadangan minyak mentah negara tersebut hanya cukup untuk sekitar 25 hari konsumsi.
Di sisi lain, sekitar 40 persen impor minyak India berasal dari Timur Tengah, yang sebagian besar dikirim melalui Selat Hormuz. Penutupan jalur pelayaran strategis itu akibat konflik regional memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Selama beberapa bulan terakhir, AS juga menekan India agar mengurangi pembelian minyak Rusia. Washington mengaitkan hal itu dengan rencana tarif impor hingga 25 persen dalam kerangka negosiasi perdagangan antara kedua negara. Namun, situasi krisis energi membuat pemerintah AS memberikan kelonggaran sementara agar pasar minyak global tetap stabil.
- Penulis: syaiful amri


Saat ini belum ada komentar