Dampak Perang Iran vs AS-Israel, Negara Asia Mulai Hemat BBM
- account_circle say say
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Antrian Kapal tanker yang membawa minyak di Selat Hormuz. Foto: careta.com
JAMBISNIS.COM – Sejumlah negara di Asia mulai menerapkan kebijakan darurat menyusul krisis bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Krisis energi ini dipicu terganggunya jalur distribusi minyak global di Selat Hormuz, salah satu rute vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Sejumlah negara pun bergerak cepat mengantisipasi dampak lonjakan harga dan potensi kelangkaan BBM. Filipina menjadi salah satu negara yang mengambil langkah tegas dengan menetapkan status darurat energi nasional. Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengeluarkan kebijakan tersebut untuk menjaga stabilitas pasokan energi domestik.
Sebagai negara importir minyak, Filipina dinilai sangat rentan terhadap gangguan distribusi global. Langkah serupa juga dilakukan Korea Selatan dengan membentuk tim darurat ekonomi guna menghadapi dampak konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah.
Sementara itu, Myanmar menerapkan kebijakan penghematan BBM dengan sistem ganjil-genap untuk kendaraan, serta membatasi distribusi bahan bakar menggunakan kode QR.
Pemerintah Myanmar juga memberlakukan kebijakan kerja dari rumah (work from home/WFH) untuk menekan konsumsi energi.
Di sisi lain, Vietnam memilih memberikan insentif berupa pemotongan pajak BBM, termasuk bahan bakar pesawat, guna menjaga daya beli masyarakat dan sektor industri.
Bagaimana dengan Indonesia? Pemerintah tengah mengkaji opsi penerapan WFH satu hari dalam sepekan sebagai langkah efisiensi konsumsi energi.
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyebut kebijakan tersebut telah dibahas dalam rapat lintas kementerian yang dipimpin oleh Airlangga Hartarto.
Lonjakan harga minyak dunia terjadi setelah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk ancaman Iran untuk menutup total Selat Hormuz jika serangan terhadap infrastruktur energi mereka berlanjut. Kondisi ini memicu kekhawatiran global karena ketergantungan banyak negara Asia terhadap impor energi.
Dengan berbagai langkah darurat yang ditempuh, negara-negara Asia kini berpacu menjaga stabilitas ekonomi di tengah ancaman krisis energi yang belum menunjukkan tanda mereda.
- Penulis: say say


Saat ini belum ada komentar