Bahlil Lahadalia Ungkap Alasan Harga BBM Nonsubsidi Naik, Ikuti Mekanisme Pasar
- account_circle say say
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia
JAMBISNIS.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap alasan di balik kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang dilakukan Pertamina Patra Niaga pada April 2026. Menurut Bahlil, kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex merupakan konsekuensi dari mekanisme pasar yang berlaku. Ia menegaskan bahwa pemerintah hanya mengatur harga BBM subsidi, bukan BBM nonsubsidi.
“Untuk BBM yang diatur pemerintah adalah subsidi. Sementara nonsubsidi mengikuti harga pasar sesuai regulasi,” ujar Bahlil dalam keterangannya di Akademi Militer Magelang.
Ia juga menyebutkan bahwa dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi relatif terbatas, karena jenis BBM tersebut umumnya digunakan oleh kalangan masyarakat mampu.
Kenaikan harga ini mengacu pada Kepmen ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 yang mengatur formula harga dasar BBM berdasarkan harga minyak dunia dan faktor lainnya. Regulasi tersebut memungkinkan penyesuaian harga secara berkala mengikuti kondisi pasar energi global.
Per 18 April 2026, Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax Turbo dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter. Sementara itu, Dexlite naik dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex meningkat dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.
Di sisi lain, harga BBM jenis Pertamax masih bertahan di Rp12.300 per liter dan Pertamax Green di Rp12.900 per liter. Keduanya belum mengalami kenaikan karena masih dalam tahap evaluasi oleh perusahaan.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyatakan bahwa keputusan terkait penyesuaian harga akan dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional dan daya beli masyarakat.
Sementara itu, pemerintah tetap mempertahankan harga BBM subsidi seperti Pertalite di Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah lonjakan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan geopolitik global.
- Penulis: say say



Saat ini belum ada komentar