Anak Penderita Epilepsi Rentan Alami Depresi dan Cemas, Kenali Gejalanya Sejak Dini
- account_circle say say
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Ilustrasi: Anak yang memiliki riwayat penyakit Epilepsi lagi kambuh di saat di ajak jalan.
JAMBISNIS.COM – Epilepsi pada anak tidak hanya berkaitan dengan kejang, tetapi juga bisa berdampak pada kondisi psikologis. Gangguan seperti depresi dan kecemasan kerap muncul dan perlu dikenali sejak dini oleh orangtua, guru, maupun tenaga medis.
Sejumlah penelitian menunjukkan, anak dengan epilepsi memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan mental. Bahkan, dalam studi di Denmark, penyandang epilepsi disebut memiliki kecenderungan bunuh diri hingga tiga kali lipat dibandingkan populasi umum.
Dokter spesialis kesehatan jiwa anak dan remaja menjelaskan, depresi pada anak epilepsi dapat ditandai dengan perubahan emosi, cara berpikir, hingga aktivitas fisik. Anak bisa terlihat murung, kehilangan semangat, sulit berkonsentrasi, hingga tidak lagi tertarik pada aktivitas yang sebelumnya disukai.
“Anak bukan hanya merasa sedih, tetapi juga mengalami penurunan kemampuan berpikir dan keinginan untuk bergerak. Ini yang membuat potensi anak bisa terhambat,” ujar seorang ahli.
Pada kelompok usia remaja, gangguan depresi lebih sering ditemukan. Sementara pada anak usia lebih muda, gangguan kecemasan justru lebih dominan. Kondisi ini kerap dipengaruhi sikap orangtua yang terlalu protektif, sehingga anak merasa ada sesuatu yang “salah” dengan dirinya.
Tanda-tanda gangguan psikologis juga bisa terlihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti kesulitan bersosialisasi di sekolah, menarik diri dari lingkungan, mudah tersinggung, hingga muncul rasa takut berlebihan tanpa alasan jelas.
Di sisi lain, tidak semua epilepsi ditandai dengan kejang yang terlihat jelas. Pada beberapa kasus, seperti tipe petit mal, anak hanya tampak melamun atau tiba-tiba kehilangan kesadaran sesaat. Kondisi ini sering tidak disadari oleh orangtua.
Ada pula tipe epilepsi yang memengaruhi perilaku, seperti kejang parsial kompleks di bagian otak tertentu. Anak bisa menjadi lebih agresif, impulsif, dan sulit mengontrol emosi, sehingga berpotensi mengalami masalah dalam pergaulan.
Para ahli mengingatkan, penting bagi orangtua untuk tidak mengabaikan perubahan perilaku anak. Jika dibiarkan, anak bisa mendapat stigma negatif dari lingkungan, yang justru memperburuk kondisi psikologisnya.
- Penulis: say say



Saat ini belum ada komentar