Rupiah Dinilai Undervalued, Bank Indonesia Yakin Fundamental Ekonomi RI Masih Kuat
- account_circle say say
- calendar_month 37 menit yang lalu
- comment 0 komentar

Gubernur BI, Perry Warjiyo
JAMBISNIS.COM – Bank Indonesia (BI) menilai nilai tukar rupiah saat ini belum mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional. Otoritas moneter menyebut posisi rupiah masih berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued di tengah tekanan global yang meningkat.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa kekuatan ekonomi domestik sejatinya cukup solid untuk menopang penguatan rupiah. Stabilitas makroekonomi, inflasi yang terkendali, serta kebijakan moneter yang konsisten menjadi faktor utama yang memperkuat fundamental tersebut.
“Nilai tukar rupiah saat ini telah undervalued dibandingkan dengan fundamentalnya,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Jumat (24/4/2026).
Meski demikian, tekanan eksternal masih membayangi pergerakan rupiah. Ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia, mendorong penguatan dolar Amerika Serikat serta meningkatkan imbal hasil obligasi AS. Kondisi ini memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
BI mencatat, pelemahan rupiah yang sempat menembus level Rp17.300 per dolar AS masih sejalan dengan tren mata uang regional. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyebut tekanan tersebut dipengaruhi faktor global yang serupa di berbagai negara.
Sebagai respons, BI mengintensifkan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar offshore. Selain itu, penguatan instrumen suku bunga juga dilakukan untuk menarik kembali aliran modal asing ke dalam negeri.
Di sisi kebijakan, BI juga mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75 persen pada April 2026. Langkah ini dinilai sebagai strategi menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mengendalikan inflasi dalam kisaran target 2,5±1 persen.
Ke depan, BI optimistis nilai tukar rupiah akan kembali menguat seiring dengan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap terjaga. Sinergi kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran diyakini mampu meredam gejolak pasar serta menjaga stabilitas sektor keuangan nasional.
- Penulis: say say



Saat ini belum ada komentar