Donald Trump Desak Negara Konsumen Minyak Amankan Selat Hormuz yang Lumpuh
- account_circle say say
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Foto: peta selat hormuz
JAMBISNIS.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari Selat Hormuz untuk ikut menjaga keamanan jalur pelayaran strategis tersebut. Seruan ini muncul setelah jalur pengiriman minyak penting dunia itu lumpuh akibat konflik dengan Iran.
Trump menyatakan negara-negara konsumen minyak seharusnya ikut bertanggung jawab melindungi jalur pelayaran yang selama ini menjadi sumber pasokan energi mereka.
Menurut Trump, banyak negara menikmati pasokan energi dari kawasan tersebut tetapi tidak ikut menjaga stabilitasnya.
Dalam pernyataannya, Trump juga menyoroti ketergantungan China terhadap minyak yang dikirim melalui Selat Hormuz. Ia menilai pemerintah Beijing di bawah kepemimpinan Xi Jinping seharusnya turut membantu mengamankan jalur tersebut.
Trump mempertanyakan mengapa Amerika Serikat harus terus menjaga jalur pelayaran itu sementara banyak negara lain juga sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan tersebut.
Pemerintah AS disebut tengah berdiskusi dengan sekitar tujuh negara untuk membentuk kerja sama pengamanan jalur pelayaran di kawasan tersebut. Meski demikian, Trump belum merinci negara mana saja yang terlibat dalam pembicaraan tersebut.
Menurutnya, sejumlah negara memiliki kapal penyapu ranjau dan kapal militer yang dapat membantu memastikan kapal tanker minyak dapat kembali melintas dengan aman.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Dalam kondisi normal, sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur tersebut setiap harinya.
Konflik dengan Iran membuat perdagangan melalui selat tersebut terganggu sehingga memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Situasi ini juga mendorong kenaikan harga minyak global yang dilaporkan telah menembus level US$100 per barel.
Dalam wawancara terpisah, Trump bahkan memperingatkan bahwa NATO dapat menghadapi masa depan yang sulit jika negara-negara anggotanya tidak ikut membantu mengamankan jalur pelayaran di kawasan tersebut.
Ia juga membuka kemungkinan menunda rencana pertemuan puncak dengan Presiden China Xi Jinping apabila Beijing tidak menunjukkan dukungan dalam upaya membuka kembali jalur perdagangan melalui Selat Hormuz.
- Penulis: say say


Saat ini belum ada komentar