Mendag Bantah Harga Daging Mahal Akibat Dominansi Kuota Impor BUMN
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Kam, 5 Feb 2026
- comment 0 komentar

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso
JAMBISNIS.COM – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso membantah anggapan mahalnya harga daging sapi di pasar disebabkan dominasi kuota impor yang diberikan kepada badan usaha milik negara (BUMN). Ia menegaskan pasokan daging nasional dalam kondisi aman dan tidak terjadi penahanan stok.
Pemerintah menetapkan kuota impor daging sapi tahun ini melalui Neraca Komoditas (NK) 2026, dengan porsi terbesar dialokasikan kepada BUMN sekitar 250 ribu ton. Sementara kuota impor untuk pelaku usaha swasta ditetapkan sekitar 30 ribu ton.
Di tengah kebijakan tersebut, muncul keluhan pedagang yang mengaitkan harga daging sapi yang masih tinggi dengan dominasi impor oleh BUMN. Menanggapi hal itu, Budi menegaskan pengaturan kuota tidak berdampak pada kelangkaan pasokan di pasar.
“Kalau saya cek tadi, harga daging rata-rata nasional sekarang di kisaran Rp141 ribu sampai Rp142 ribu per kilogram. HET-nya Rp140 ribu. Jadi enggak ada itu yang ditahan-tahan,” ujar Budi di Jakarta, Selasa (3/2).
Ia menjelaskan impor daging sapi tetap dilakukan baik oleh swasta maupun BUMN. Perizinan impor yang diterbitkan sejak Januari, menurutnya, sebagian sudah terealisasi dan masuk ke pasar. Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan BUMN agar realisasi impor berjalan sesuai rencana.
“Kita kemarin juga sudah ketemu BUMN, sekarang sedang merealisasikan impor daging sapi. Jadi enggak ada yang ditahan,” katanya.
Budi menambahkan pemerintah telah menggelar rapat koordinasi dengan dinas daerah dan distributor guna memastikan distribusi daging berjalan lancar menjelang Ramadan dan Lebaran. Ia menegaskan seluruh pihak siap menjaga pasokan agar kebutuhan masyarakat terpenuhi.
Sementara itu, berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga daging sapi kualitas 1 dan kualitas 2 tercatat berada di level sekitar Rp200 ribu per kilogram di sejumlah daerah.
Selain membahas daging sapi, Budi juga membantah anggapan harga minyak goreng rakyat Minyakita masih mahal. Ia menyebut harga Minyakita justru mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir.
“Minyakita sudah turun. Sekarang sekitar Rp16.300 per liter, sebelumnya Rp16.800,” ujarnya.
Menurut Budi, Minyakita merupakan minyak goreng dalam skema Domestic Market Obligation (DMO) yang dijual dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter. Ia menilai Minyakita kerap dijadikan indikator tunggal kenaikan harga minyak goreng, padahal di pasar tersedia berbagai jenis minyak goreng lainnya.
“Kalau Minyakita naik, kesannya harga minyak naik semua. Padahal minyak di pasar itu banyak,” tegasnya.
- Penulis: syaiful amri

Saat ini belum ada komentar