Dolar AS Mulai Tertekan, Rupiah Menguat ke Rp17.860
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pagi ini rupiah menguat tipis.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah kembali bangkit pada pembukaan perdagangan Rabu (19/8/2026). Setelah sempat melemah pada perdagangan sebelumnya, mata uang Indonesia kini kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip Antara, rupiah dibuka menguat 2 poin atau 0,01 persen ke level Rp17.860 per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan tersebut membawa rupiah sedikit menjauh dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup di posisi Rp17.862 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat tipis 0,03% ke posisi 99,688.
Pergerakan rupiah hari ini akan dipengaruhi penantian terhadap keputusan BI serta dinamika ekspektasi suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).
BI memasuki hari kedua Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 18-19 Agustus 2026. Keputusan mengenai BI Rate akan diumumkan pada Rabu hari ini.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan rupiah melemah seiring pelaku pasar berhati-hati mencermati hasil RDG Bank Indonesia pada siang hari ini.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.850-Rp17.900 dipengaruhi oleh domestik sikap hati-hati pelaku pasar mencermati hasil RDG Bank Indonesia siang nanti,” ucapnya.
Rully memperkirakan BI bakal menahan suku bunga acuan di 5,75 persen, namun akan lebih aktif di pasar valas dan obligasi.
Para analis yang lain turut memprediksi bahwa BI akan mempertahankan suku bunga. Beberapa faktor di antaranya ialah inflasi yang sudah kembali ke bawah 3 persen serta perbaikan capital inflow yang mendukung nilai tukar rupiah, sebagaimana diungkapkan Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman.
Selain itu, juga menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed lebih cepat sejalan dengan data inflasi, tenaga kerja, dan sektor riil Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan adanya tanda pelemahan.
Begitu pula Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) yang juga memperkirakan BI-Rate akan bertahan di level 5,75 persen.
BI dinilai masih memiliki ruang untuk menahan BI-Rate seiring dengan meredanya tekanan eksternal secara temporer akibat tensi geopolitik di Timur Tengah yang relatif terkendali dalam beberapa pekan terakhir.
Melihat sentimen global, Rully menyatakan bahwa harga minyak yang bertahan di level tinggi dan kenaikan yield obligasi pemerintah AS terutama tenor jangka panjang turut mempengaruhi nilai tukar rupiah.
“Obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun sempat menyentuh 5,34 persen dan 4,75 persen untuk 10 tahun,” kata dia.(*)
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
