Karhutla Sungai Gelam Belum Padam, Aktivitas Ekonomi dan UMKM Warga Mulai Terancam
- account_circle say say
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Karhutla yang terjadi sejak Sabtu (8/8/2026) hingga Minggu (9/8/2026) masih belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, tidak hanya mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat. Jika terus meluas, kebakaran juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi warga, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Karhutla yang terjadi sejak Sabtu (8/8/2026) hingga Minggu (9/8/2026) masih belum sepenuhnya berhasil dipadamkan. Tim gabungan masih melakukan pemadaman melalui jalur darat dan udara untuk mengendalikan penyebaran api.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Muaro Jambi, Anari Hasiholan Sitorus, mengatakan kebakaran terjadi di lahan masyarakat dengan vegetasi berupa tanaman sawit, semak belukar, dan pakis.
“Api masih belum padam sepenuhnya. Tim masih terus melakukan pemadaman, baik melalui jalur darat maupun udara dengan dukungan water bombing,” kata Anari, Minggu (9/8/2026).
Berdasarkan perkiraan sementara, luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 7 hektare. Luas keseluruhan kawasan yang terdampak masih dalam proses perhitungan.
Kondisi ini menjadi perhatian karena sebagian lahan yang terbakar merupakan kawasan masyarakat yang memiliki aktivitas perkebunan, termasuk tanaman sawit.
Jika kebakaran meluas dan berlangsung lama, dampaknya tidak hanya berupa kerusakan lahan. Rantai ekonomi masyarakat juga berpotensi ikut terganggu, mulai dari petani, pekerja kebun, pedagang hingga pelaku UMKM yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas ekonomi di sekitar wilayah terdampak.
Bagi pelaku UMKM, gangguan aktivitas masyarakat dapat berpengaruh terhadap jumlah pembeli dan perputaran omzet. Kondisi udara yang dipenuhi asap juga berpotensi membuat masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah.
Situasi tersebut dapat menjadi tekanan tambahan bagi usaha kecil yang mengandalkan transaksi harian, seperti warung makan, pedagang kelontong, pedagang kaki lima dan usaha jasa.
Anari mengatakan karakteristik tanah yang didominasi gambut membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan ekstra.
Tim terlebih dahulu melakukan pemantauan menggunakan drone untuk mengetahui kondisi dan sebaran titik api. Setelah itu, personel bergerak melakukan pemadaman di sejumlah lokasi yang masih terbakar.
Namun, proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala, antara lain minimnya sumber air, akses jalan yang terbatas dan kondisi angin yang cukup kencang.
“Angin di lokasi cukup kencang sehingga api cepat sekali menyebar. Karena itu, kami melakukan penyekatan dari beberapa sisi agar pergerakan api bisa dikendalikan,” ujar Anari.
Karhutla yang terjadi di tengah musim kemarau perlu menjadi perhatian tidak hanya dari sisi penanganan bencana, tetapi juga keberlangsungan ekonomi masyarakat.
Sungai Gelam merupakan salah satu kawasan yang memiliki aktivitas perkebunan dan ekonomi masyarakat. Pergerakan ekonomi tersebut juga menopang berbagai usaha kecil yang berada di sekitar permukiman dan kawasan perkebunan.
Karena itu, semakin lama Karhutla berlangsung, semakin besar pula potensi dampaknya terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu memastikan penanganan Karhutla berjalan cepat agar dampak terhadap masyarakat tidak meluas.
Selain pemadaman, perlindungan terhadap masyarakat dan keberlangsungan usaha kecil juga penting diperhatikan, terutama apabila asap mulai mengganggu aktivitas warga dalam beberapa hari ke depan.
Bagi pelaku UMKM, keberlangsungan aktivitas ekonomi sangat bergantung pada kondisi lingkungan yang aman dan aktivitas masyarakat yang tetap berjalan.
Dengan api yang masih dalam proses pemadaman, masyarakat diimbau tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran baru.
Penanganan cepat Karhutla di Sungai Gelam diharapkan tidak hanya mencegah kerusakan lingkungan semakin luas, tetapi juga menjaga roda ekonomi masyarakat dan UMKM tetap bergerak.
- Penulis: say say
