Sejarah Bioskop di Jambi: Kisah Lie Chong dan Arwin Lie Membangun Jaringan 20 Bioskop
- account_circle say say
- calendar_month 21 menit yang lalu
- print Cetak

Foto ilustrasi. Gambar ini merupakan ilustrasi artistik dan bukan foto asli sosok Lie Chong. Ilustrasi dibuat untuk menggambarkan sosok perintis keluarga pengusaha yang menjadi cikal bakal berkembangnya jaringan bioskop di Provinsi Jambi. Berdasarkan berbagai catatan sejarah, pengembangan bisnis bioskop kemudian diteruskan oleh putranya, Arwin Lie, hingga membangun sekitar 20 bioskop di berbagai wilayah Jambi pada era 1970–1990-an.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nama Lie Chong mungkin tidak sepopuler tokoh-tokoh politik atau pengusaha besar di Jambi saat ini. Namun, bagi sejarah industri hiburan di Provinsi Jambi, sosoknya memiliki peran yang sangat penting. Dari tangan keluarga yang ia bangun, lahirlah jaringan bioskop terbesar yang pernah dimiliki Jambi. Selama lebih dari dua dekade, bioskop-bioskop keluarga Lie menjadi pusat hiburan masyarakat dari Kota Jambi hingga pelosok kabupaten.
Meski bisnis bioskop mulai berkembang pesat pada akhir 1960-an melalui putra sulungnya, Arwin Lie, pondasi usaha tersebut berawal dari perjalanan hidup Lie Chong, seorang perantau asal Tiongkok yang datang ke Jambi pada 1934 untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Datang ke Jambi Sebagai Perantau
Informasi mengenai kehidupan awal Lie Chong memang tidak banyak terdokumentasi dalam arsip publik. Namun sejumlah catatan sejarah industri bioskop Jambi menyebutkan bahwa ia merupakan pendatang dari Tiongkok yang menetap di Jambi sejak 1934 dan kemudian membangun kehidupan bersama keluarganya di kota ini.
Pada masa itu, Kota Jambi masih berkembang sebagai kota perdagangan. Infrastruktur hiburan modern hampir belum ada, sementara masyarakat mulai membutuhkan ruang rekreasi di tengah pertumbuhan ekonomi daerah. Kesempatan itulah yang kemudian dibaca oleh keluarga Lie.
Arwin Lie Mengubah Bioskop Terbengkalai Menjadi Peluang Besar
Tongkat estafet usaha keluarga kemudian diteruskan oleh putra sulung Lie Chong, Arwin Lie. Sekitar tahun 1969, ketika jumlah bioskop di Jambi masih sangat terbatas, Arwin menerima tawaran untuk mengambil alih sebuah gedung bioskop yang telah lama terbengkalai. Dengan keberanian dan naluri bisnis yang kuat, gedung tersebut direnovasi total, lalu dibuka kembali dengan nama Bioskop Mega. Keputusan itu menjadi titik balik sejarah perfilman di Jambi.
Bioskop Mega mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Tingginya animo penonton membuat keluarga Lie melihat bahwa bisnis hiburan memiliki masa depan yang menjanjikan.
Membangun Kerajaan Bioskop di Jambi
Keberhasilan Bioskop Mega menjadi awal ekspansi besar-besaran keluarga Lie. Sepanjang dekade 1970-an hingga 1980-an, satu demi satu bioskop baru dibangun di Kota Jambi, antara lain:
- Bioskop Duta
- Bioskop Murni
- Bioskop Ria
- President I
- President II
- Bioskop Sumatera
- Mayang Theatre
- Bioskop Sitimang
Salah satu yang paling dikenal adalah President I dan President II di kawasan Pasar Jambi (Pasar Tingkat). Berdasarkan prasasti yang masih disimpan keluarga, bioskop tersebut diresmikan oleh Wali Kota Jambi Azhari pada 27 November 1989.
Menjangkau Kabupaten Hingga Pelosok
Tidak berhenti di Kota Jambi, keluarga Lie memperluas jaringan bioskop ke berbagai daerah di Provinsi Jambi. Mereka mendirikan bioskop di Tembesi, Bajubang, Muara Tebo (Bioskop Sederhana), Muara Bungo (Bioskop Bungo Indah dan Serunai Baru), Rantau Panjang (Semayo Indah), Bangko (Merangin Jaya), Sarolangun (Saroja), Kerinci (Chandra), Sabak (Medahara), Kuala Tungkal (Dewi), hingga Nipah Panjang (Setia Bhakti).
Menurut catatan keluarga, jumlah bioskop yang mereka kelola mencapai sekitar 20 bioskop, menjadikannya jaringan bioskop terbesar yang pernah dimiliki di Provinsi Jambi.
Pelopor Bioskop Keliling
Inovasi keluarga Lie tidak berhenti pada pembangunan gedung bioskop. Mereka juga mengoperasikan bioskop keliling, membawa layar, proyektor, dan generator ke desa-desa yang belum memiliki gedung bioskop. Pemutaran film biasanya dilakukan di lapangan terbuka atau balai desa.
Pada masa itu, akses jalan menuju banyak wilayah di Jambi masih terbatas. Kendaraan harus melewati jalan tanah bahkan menyeberangi sungai untuk membawa perlengkapan pemutaran film. Selain menjadi hiburan, bioskop keliling juga kerap dimanfaatkan pemerintah untuk menyampaikan informasi pembangunan dan penyuluhan kepada masyarakat.
Bisnis yang Dijalankan Bersama Keluarga
Keunikan lain dari keluarga Lie adalah hampir seluruh anggota keluarga ikut terlibat dalam operasional bioskop. Salah satunya Harkopo Lie, adik Arwin Lie, yang bertugas melukis poster-poster film secara manual. Sebelum era digital printing, setiap poster berukuran baliho dibuat dengan tangan menggunakan cat di atas kain atau papan.
Poster-poster tersebut kemudian dipasang di depan bioskop maupun diarak keliling kota menggunakan mobil yang dilengkapi pengeras suara untuk mengumumkan film terbaru kepada masyarakat. Cara promosi ini menjadi ciri khas industri bioskop Jambi pada era 1970–1990-an.
Ketika Jambi Pernah Memiliki Lebih dari Satu Juta Penonton Bioskop
Masa kejayaan jaringan bioskop keluarga Lie bertepatan dengan puncak industri perfilman di Jambi. Data statistik Provinsi Jambi menunjukkan bahwa pada awal 1980-an jumlah penonton bioskop telah melampaui satu juta orang setiap tahun. Bahkan pada 1982 jumlah penonton mencapai lebih dari 1,2 juta orang, sementara jumlah bioskop aktif mencapai 15 gedung. Beberapa tahun berikutnya jumlah bioskop sempat bertambah menjadi 16 dengan angka penonton tetap berada di atas satu juta orang.
Angka tersebut menunjukkan bahwa bioskop pernah menjadi salah satu bentuk hiburan paling populer di Jambi.
Mulai Meredup karena Perubahan Teknologi
Memasuki dekade 1990-an, bisnis bioskop lokal mulai menghadapi tantangan besar. Kemunculan televisi swasta, video kaset VHS, VCD, DVD, hingga akhirnya jaringan bioskop modern membuat jumlah penonton bioskop lokal terus menurun. Satu per satu gedung bioskop keluarga Lie akhirnya menghentikan operasionalnya hingga awal 2000-an.
Menyelamatkan Sejarah Lewat Museum Bioskop
Meski bisnis bioskop telah berakhir, keluarga Lie memilih tidak menjual peninggalan mereka. Ribuan poster film lukis, mesin proyektor, kursi bioskop, karcis, baliho promosi, hingga kendaraan promosi masih disimpan dengan baik. Berkat inisiatif Harkopo Lie, koleksi tersebut kemudian menjadi cikal bakal Museum Bioskop Jambi di kawasan Tempoa Art Gallery, Jelutung.
Museum ini kini menjadi salah satu pusat dokumentasi sejarah perfilman daerah dan pernah menjadi lokasi pameran budaya bioskop yang menarik perhatian akademisi, seniman, hingga masyarakat umum. Koleksinya bahkan mencapai sekitar 3.000 poster film dari periode 1969–1999, menjadikannya salah satu arsip visual perfilman daerah yang langka di Indonesia.
Warisan Lie Chong
Meski nama Lie Chong tidak banyak muncul dalam buku sejarah, warisan yang ditinggalkannya telah membentuk budaya menonton film di Jambi selama puluhan tahun. Melalui keberanian seorang perantau dan semangat kewirausahaan yang diteruskan Arwin Lie beserta keluarga, lahirlah jaringan bioskop yang pernah menghubungkan masyarakat dari Kota Jambi hingga pelosok desa dengan dunia perfilman.
Hari ini, ketika masyarakat menikmati film di bioskop digital modern, jejak perjuangan keluarga Lie tetap menjadi bagian penting dari sejarah industri kreatif Jambi sebuah warisan yang menunjukkan bahwa sebelum era multiplex nasional hadir, Jambi telah memiliki pelopor bioskop yang tumbuh dari usaha keluarga sendiri
Sumber: Diolah dari arsip Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Jambi, buku Sejarah Provinsi Jambi, serta berbagai referensi media dan dokumentasi sejarah, antara lain Jumardi Putra, Akurat.co, Medcom.id, Radar Jambi, dan Jambi Ekspres.
- Penulis: say say

