Harga TBS Sawit Jambi Nyaris Stagnan, Petani Kian Lesu di Level Rp3.706 per Kg
- account_circle say say
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Jambi pada periode 19–25 Juni 2026 tercatat nyaris tidak bergerak, hanya turun tipis Rp0,03 per kilogram menjadi Rp3.706,55 per kilogram. Kondisi stagnan ini membuat petani sawit kembali berada dalam tekanan, di tengah biaya produksi yang tetap berjalan. Penetapan harga dilakukan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jambi berdasarkan kelompok usia tanaman, dengan harga tertinggi pada umur 10–20 tahun.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nasib petani sawit di Provinsi Jambi kembali berada di titik kurang menggembirakan. Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit tercatat hanya mengalami penurunan tipis dan cenderung stagnan pada periode 19–25 Juni 2026.
Berdasarkan hasil rapat penetapan harga oleh Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Jambi, harga TBS usia tanam 10–20 tahun turun Rp0,03 per kilogram menjadi Rp3.706,55 per kilogram. Koreksi yang nyaris tak terasa ini tetap menambah daftar panjang stagnasi harga komoditas andalan daerah tersebut.
Pergerakan harga yang minim membuat pelaku perkebunan rakyat berada dalam posisi serba tanggung. Tidak ada kenaikan berarti, namun tekanan biaya produksi tetap berjalan.
Di lapangan, kondisi ini kerap diterjemahkan sebagai “harga diam di tempat”, meski secara teknis tetap terjadi penyesuaian kecil.
Penetapan harga TBS kelapa sawit di Jambi dibedakan berdasarkan usia tanaman. Berikut rincian lengkapnya:
- Usia 3 tahun: Rp2.891,53/kg
- Usia 4 tahun: Rp3.089,83/kg
- Usia 5 tahun: Rp3.231,81/kg
- Usia 6 tahun: Rp3.366,70/kg
- Usia 7 tahun: Rp3.451,62/kg
- Usia 8 tahun: Rp3.525,23/kg
- Usia 9 tahun: Rp3.594,51/kg
- Usia 10–20 tahun: Rp3.706,55/kg
- Usia 21–24 tahun: Rp3.595,86/kg
- Usia 25 tahun: Rp3.432,41/kg
Harga tertinggi masih berada pada kelompok tanaman produktif usia 10–20 tahun, yang menjadi acuan utama panen petani di lapangan. Kondisi harga yang stagnan ini kembali menegaskan posisi rentan petani sawit di tengah fluktuasi pasar. Di satu sisi, harga tidak jatuh dalam, namun di sisi lain juga gagal memberi ruang keuntungan yang lebih baik bagi petani.
Sementara itu, penetapan harga yang dilakukan secara periodik oleh pemerintah daerah menjadi satu-satunya rujukan resmi bagi petani dan pabrik kelapa sawit dalam transaksi pembelian TBS.
- Penulis: say say
