Utang Proyek Whoosh Jadi Ujian bagi Danantara, Investor Waspadai Persepsi Negatif
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Sen, 27 Okt 2025
- comment 0 komentar

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali ke Jakarta naik Whoosh usai melakukan kunjungan kerja di Jawa Barat, Kamis (7/8/2025).
JAMBISNIS.COM – Besarnya utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh kini menjadi ujian berat bagi Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Sejumlah pengamat menilai, kegagalan Danantara mengelola beban keuangan proyek strategis nasional ini bisa menimbulkan persepsi negatif dari investor global terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia.
“Masalah persepsi negatif akan muncul ketika Danantara tidak mampu mengatasi utang BUMN seperti KAI. Karena Danantara adalah badan publik yang langsung bertanggung jawab kepada presiden, maka isu ini bisa dianggap mencerminkan kemampuan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan BUMN,” ujar Pengamat BUMN Next Center, Herry Gunawan, kepada kumparan, Senin (27/10).
Proyek Whoosh memiliki nilai investasi USD 7,27 miliar atau sekitar Rp 120,6 triliun, termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) senilai USD 1,2 miliar (Rp 19,8 triliun). Sebagai pemimpin konsorsium BUMN, PT Kereta Api Indonesia (Persero) menanggung beban utang sebesar Rp 6,9 triliun dari China Development Bank (CDB) untuk menutup pembengkakan biaya tersebut.
Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah menolak opsi penyelesaian utang menggunakan dana APBN, dan menyerahkan penyelesaiannya kepada Danantara sebagai lembaga pengelola investasi negara.
“Keputusan Menteri Keuangan sudah tepat, karena dengan begitu utang Whoosh tidak akan membebani fiskal negara yang terbatas,” jelas Herry.
Proyek Whoosh sepanjang 142,3 km dari Jakarta ke Bandung tercatat memiliki biaya lebih besar dibanding proyek Saudi Land Bridge di Arab Saudi yang memiliki panjang 1.500 km. Proyek Saudi tersebut menelan investasi USD 7 miliar atau Rp 116 triliun, lebih rendah dari total biaya pembangunan Whoosh.
Menurut Herry, tingginya biaya proyek Whoosh disebabkan perencanaan yang kurang matang, mulai dari relokasi fasilitas umum, kenaikan harga material konstruksi, hingga pembebasan lahan yang tidak efisien.
“Kalau perencanaannya matang dari awal, pembengkakan biaya sebesar ini seharusnya tidak terjadi,” katanya.
Ketua Forum Pembiayaan Transportasi MTI, Muhammad Syaifullah, menilai pembengkakan biaya besar kerap terjadi pada proyek infrastruktur dunia, namun mitigasi risiko harus dilakukan sejak awal melalui kajian komprehensif.
“Contohnya proyek MRT di Amerika Serikat juga mengalami pembengkakan luar biasa karena lemahnya kajian risiko,” ujarnya.
Menurut Syaifullah, faktor geotektonik dan topografi juga menjadi penyebab utama mahalnya biaya konstruksi Whoosh.
“Konstruksi yang banyak menggunakan terowongan (tunnel) dan struktur elevated jelas lebih mahal dibanding jalur datar (at grade). Apalagi wilayah Jakarta–Bandung rawan pergeseran lempeng bumi, yang berpengaruh pada desain teknik dan keamanan proyek,” jelasnya.
Ia juga menduga, bunga pinjaman dari CDB yang lebih tinggi dibanding proyek lain turut memperbesar total biaya proyek.
“Hal ini harus diverifikasi lebih lanjut karena bisa berdampak signifikan pada total pengembalian investasi,” tambahnya.
Dengan penolakan penggunaan APBN dan pelimpahan tanggung jawab ke Danantara, pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga disiplin fiskal. Namun, para pengamat menilai langkah ini akan menjadi ujian kredibilitas pertama bagi Danantara sebagai lembaga pengelola investasi strategis nasional. Jika gagal mengelola beban utang proyek besar seperti Whoosh, kepercayaan investor terhadap kemampuan Indonesia menjaga stabilitas keuangan dan tata kelola BUMN bisa terpengaruh.
- Penulis: syaiful amri

Saat ini belum ada komentar