Selasa, 12 Mei 2026
light_mode
Beranda » Internasional » Terbesar ke-3 di Dunia, Cadangan Emas Italia Tembus Rp4.974 Triliun

Terbesar ke-3 di Dunia, Cadangan Emas Italia Tembus Rp4.974 Triliun

  • account_circle -
  • calendar_month Kamis, 16 Okt 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAMBISNIS.COM – Italia kini tengah menikmati keuntungan besar dari lonjakan harga emas dunia. Bank Sentral Italia (Bank of Italy) tercatat memiliki 2.452 ton emas, menjadikannya pemilik cadangan emas terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Jerman.

Dengan harga emas yang saat ini mencapai rekor tertinggi, nilai cadangan tersebut diperkirakan mencapai US$300 miliar atau sekitar Rp4.974 triliun (kurs US$1 = Rp16.580). Angka ini setara dengan 13% dari total output nasional Italia pada 2024, menurut perhitungan Reuters.

Kecintaan Italia terhadap emas telah berakar sejak ribuan tahun lalu. Bangsa Etruscan telah menguasai teknik pengelasan manik-manik emas jauh sebelum kejayaan Romawi.

Di era Julius Caesar, koin emas aureus menjadi fondasi moneter Kekaisaran Romawi, sementara di abad pertengahan, fiorino Florentine berperan seperti dolar di zaman modern.

Namun, kebijakan emas Italia modern banyak dipengaruhi oleh pengalaman pahit di masa Perang Dunia II. Pasukan Nazi, dengan bantuan rezim fasis Italia, merampas sekitar 120 ton emas, meninggalkan hanya 20 ton saat perang berakhir.

Dalam masa “keajaiban ekonomi” pascaperang, Italia bangkit sebagai ekonomi berbasis ekspor. Arus masuk dolar AS dari perdagangan kemudian sebagian dikonversi menjadi emas.

Pada tahun 1960, cadangan emas Italia sudah mencapai 1.400 ton, termasuk tiga perempat emas rampasan yang berhasil direbut kembali pada tahun 1958.

Krisis minyak pada 1970-an membawa ketidakpastian global yang mengguncang ekonomi Italia. Ketidakstabilan politik dan sosial membuat investor menilai negara ini berisiko tinggi.

“Ketidakstabilan moneter ekstrem mendorong bank sentral di negara-negara Barat membeli emas — simbol utama stabilitas keuangan,” ujar Stefano Caselli, Dekan SDA Bocconi School of Management di Milan.

Untuk menutupi defisit anggaran, Italia bahkan pernah menggunakan 41.300 batang emas sebagai jaminan pinjaman senilai US$2 miliar dari Bundesbank Jerman pada 1976 — setara sekitar Rp33,16 triliun dengan kurs saat ini.

Namun berbeda dari Inggris atau Spanyol, Italia tidak pernah menjual emasnya, bahkan saat krisis utang 2008 melanda.

“Emas adalah seperti peralatan perak keluarga — atau jam tangan kakek yang berharga — cadangan terakhir di masa krisis yang mengguncang kepercayaan internasional,” tulis Salvatore Rossi, mantan Wakil Gubernur Bank of Italy, dalam bukunya Oro (Emas) tahun 2018.

Di tengah ketidakpastian global saat ini, banyak bank sentral kembali menimbun emas sebagai pelindung nilai terakhir.

“Keputusan historis Bank of Italy terasa sangat relevan saat ini,” kata Caselli. “Kita kembali ke situasi seperti dulu.”

Menurut data World Gold Council, emas menyumbang 75% dari total cadangan resmi Italia, jauh di atas rata-rata zona euro yang hanya 66,5%. Sekitar 1.100 ton emas disimpan di brankas bawah tanah Palazzo Koch, markas Bank of Italy yang berlokasi tak jauh dari Colosseum, Roma. Jumlah serupa disimpan di Amerika Serikat, sementara sebagian kecil berada di Inggris dan Swiss.

Menariknya, Italia juga merupakan salah satu eksportir perhiasan emas terbesar di dunia, dengan pusat produksi di Arezzo, Alessandria, dan Vicenza. Merek-merek mewah seperti Bulgari, Buccellati, dan Damiani turut mengharumkan nama Italia di pasar global.

Meskipun cadangan emasnya bernilai fantastis, Italia masih bergulat dengan utang publik lebih dari €3 triliun (sekitar US$3,49 triliun atau Rp57.848 triliun), setara 137,4% dari PDB.

Seruan untuk menjual sebagian emas demi mengurangi utang atau membiayai layanan publik terus muncul, namun hingga kini belum berhasil.

“Menjual bahkan separuh dari cadangan emas tidak akan menyelesaikan masalah utang Italia,” ujar Giacomo Chiorino, Kepala Analisis Pasar di Banca Patrimoni Sella & C.

Bank of Italy sendiri tidak memberikan komentar terkait kebijakan emasnya. Namun para ekonom sepakat, di tengah ketegangan geopolitik dan munculnya aset digital seperti stablecoin dan kripto, emas tetap menjadi aset paling aman.

“Ketika dunia sedang berubah dan harga pasar mencapai level belum pernah terjadi sebelumnya, bank sentral kini memegang aset terpanas di dunia,” pungkas Caselli.(*)

  • Penulis: -

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengapa 83% Rudal Iran Justru Hantam Negara Arab, Bukan Israel-AS? Ini Motif Sebenarnya

    Mengapa 83% Rudal Iran Justru Hantam Negara Arab, Bukan Israel-AS? Ini Motif Sebenarnya

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah berlangsung hampir sebulan memunculkan fakta mengejutkan. Alih-alih fokus menyerang musuh utamanya, sebagian besar rudal dan drone Iran justru menghantam negara-negara Arab di kawasan Teluk. Laporan lembaga berbasis di Washington DC, Stimson Center, mengungkap sekitar 83 persen serangan Iran sejak pecahnya perang pada 28 Februari […]

  • Pertamina NRE Terbitkan 35.475 Ton Kredit Karbon Baru, 90% Langsung Terserap Pasar

    Pertamina NRE Terbitkan 35.475 Ton Kredit Karbon Baru, 90% Langsung Terserap Pasar

    • calendar_month Sabtu, 15 Nov 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) kembali menerbitkan kredit karbon dengan total volume 35.475 ton CO2e yang bersumber dari pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei. Kredit karbon tersebut langsung mendapatkan respons positif dari pasar, dengan 90,4% atau 32.060 ton CO2e sudah terjual kepada perusahaan nasional lintas […]

  • Bisnis Sehat, Laba Bersih Bank Mandiri Capai Rp8,9 Triliun

    Bisnis Sehat, Laba Bersih Bank Mandiri Capai Rp8,9 Triliun

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatatkan pertumbuhan bisnis yang tetap sehat dengan laba bersih yang tumbuh sebesar 16,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp8,9 triliun hingga Februari 2026. Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini, mengatakan pertumbuhan laba ini seiring dengan meningkatnya aktivitas transaksi digital masyarakat melalui Livin’ by […]

  • Harga Emas Naik Akibat Produksi Freeport Terganggu, Jadi Pendorong Inflasi Oktober 2025

    Harga Emas Naik Akibat Produksi Freeport Terganggu, Jadi Pendorong Inflasi Oktober 2025

    • calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Oktober 2025 mencapai 2,86% secara tahunan (year on year). Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya harga emas perhiasan, yang menjadi penyumbang utama inflasi bulan tersebut. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, kenaikan harga emas terjadi karena gangguan produksi di tambang PT Freeport Indonesia (PTFI). Insiden […]

  • UPTD Samsat Batang Hari Tutup Sementara Selama Libur Nyepi dan Lebaran

    UPTD Samsat Batang Hari Tutup Sementara Selama Libur Nyepi dan Lebaran

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Samsat Kabupaten Batang Hari, Jambi menutup sementara pelayanan administrasi kendaraan selama tujuh hari pada masa libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idulfitri 2026. Kepala UPTD Samsat Batang Hari Hilda Susanti mengatakan penutupan pelayanan tersebut berlangsung mulai 18 hingga 24 Maret 2026 dan akan kembali dibuka pada 25 Maret […]

  • Rupiah Kembali Terpukul Sentimen Konflik AS-Iran

    Rupiah Kembali Terpukul Sentimen Konflik AS-Iran

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM– Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan awal pekan Senin (13/4/2026). Pada perdagangan sore ini, kurs rupiah ditutup melemah tipis 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp17.105 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat melemah 17 poin di level Rp17.121 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.104. Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi […]

expand_less