Sentuh Level Psikologis Lagi, Rupiah Jebol Rp18.099 per Dolar AS
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan semakin menjauh dari level aman. Pada perdagangan Rabu (29/7/2026), mata uang Indonesia kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Mengutip Antara, rupiah melemah 16 poin atau 0,09 persen ke level Rp18.099 per dolar AS. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp18.083 per dolar AS.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Kembalinya kurs ke atas Rp18.000 per dolar AS menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap mata uang domestik masih belum mereda.
Sementara itu, indeks dolar AS terpantau melemah tipis 0,01 persen ke posisi 101,405. Pelemahan tersebut melanjutkan koreksi sebesar 0,12 persen pada perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah hari ini masih akan dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah, penantian terhadap keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), serta langkah stabilisasi nilai tukar yang dilakukan Bank Indonesia (BI).
Meski demikian, BI kembali menegaskan komitmennya menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global dan transisi kepemimpinan bank sentral.
Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan stabilitas menjadi prasyarat utama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi,” papar Erwin.
Menurut Erwin, upaya menjaga rupiah tidak hanya dilakukan melalui suku bunga kebijakan. BI juga terus mempertajam penggunaan instrumen moneter lainnya.
“Berbagai instrumen, termasuk triple intervention di pasar valas (spot, NDF, dan DNDF) serta optimalisasi instrumen moneter seperti SRBI yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging, terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing,” ujarnya.
BI juga terus menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan. Penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) akan disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas sekaligus diarahkan untuk mendukung masuknya aliran modal asing.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber dan narasumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua

