Rupiah Makin Loyo, Dolar AS Dekati Rp18 Ribu
- account_circle darmanto zebua
- calendar_month 8 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Uang pecahan dolar AS dan rupiah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Rupiah belum juga mampu keluar dari tekanan dolar Amerika Serikat (AS). Memasuki perdagangan Selasa (22/9/2026), mata uang Indonesia kembali melemah dan kian mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Mengutip Antara, rupiah kini berada di posisi Rp17.879 per dolar AS. Rupiah melemah 32 poin atau 0,18 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.847 per dolar AS.
Tekanan tersebut melanjutkan pelemahan rupiah pada perdagangan Senin (21/9/2026). Saat itu, rupiah ditutup melemah 89 poin atau 0,50 persen ke level Rp17.847 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.758 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS terpantau relatif stagnan di level 100,425. Meski tidak mengalami penguatan signifikan, posisi dolar yang tetap tinggi membuat ruang gerak rupiah masih terbatas.
Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan dipengaruhi sentimen dari dalam dan luar negeri. Di pasar domestik, perhatian tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang dimulai hari ini dan berlangsung hingga Rabu (23/9/2026).
Keputusan suku bunga acuan atau BI Rate dijadwalkan diumumkan besok. Pengumuman tersebut akan menjadi yang pertama bagi Destry Damayanti sejak dilantik sebagai Gubernur BI definitif pada 2 September.
Berdasarkan konsensus pasar, BI diperkirakan mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Suku bunga deposit facility dan lending facility juga diperkirakan tetap, masing-masing sebesar 4,75% dan 6,5%.
Pada RDG Agustus, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Destry, yang saat itu masih menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI, menyebut keputusan tersebut sejalan dengan upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global, menjaga inflasi dalam sasaran 2,5±1%, serta mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dari eksternal, dolar AS masih mendapat dukungan setelah The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga dan memberi sinyal peluang pengetatan lanjutan.
Menurut CME FedWatch, pasar memperhitungkan peluang sekitar 55% bahwa The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Oktober, naik dari sekitar 43% sepekan sebelumnya.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber.
- Penulis: darmanto zebua
