Menguat 14 Poin, Rupiah Kini Rp16.851 per Dolar AS
- account_circle darmanto zebua
- calendar_month Kam, 15 Jan 2026
- comment 0 komentar

ILUSTRASI: Dibuka pada perdagangan Kamis (15/1/2026) pagi, rupiah bergerak menguat 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp16.851 per dolar AS.(F:Ist)
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai bergairah. Dibuka pada perdagangan Kamis (15/1/2026) pagi, rupiah bergerak menguat 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp16.851 per dolar AS. Penutupan hari sebelumnya mata uang Indonesia berada di level Rp 16.865 per dolar AS.
Pada saat bersamaan, greenback terpantau mengalami kontraksi. Indeks dolar terlihat naik 0,06 persen ke level 99,11.
Pergerakan rupiah ini sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia. Dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,16%. Disusul, yuan China dan yen Jepang yang sama-sama terkerek 0,06%.
Selanjutnya ada peso Filipina yang menanjak 0,04% dan dolar Singapura terangkat 0,02%. Lalu dolar Hongkong juga naik 0,02%.
Kemudian ada ringgit Malaysia yang menguat tipis 0,01% terhadap the greenback. Sementara itu, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,3%.
Berikutnya ada baht Thailand yang melemah 0,16% pada perdagangan pagi ini.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah bakal ditutup melemah di rentang Rp16.860 hingga Rp16.890 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Menurutnya, sejumlah sentimen yang menyertai gerak rupiah di pasar keuangan. Dari global, pelaku pasar mencermati data indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi.
“CPI inti naik 0,2% pada bulan Desember dan 2,6% secara tahunan, di bawah perkiraan. Hal ini memperkuat spekulasi penurunan suku bunga di masa mendatang. Pasar sekarang memperkirakan sekitar dua kali penurunan suku bunga pada tahun 2026,” kata Ibrahim.
Selain itu, pasar juga menaruh fokus pada risiko geopolitik global. Kabar terbaru, Iran kini dilanda protes anti-pemerintah yang telah menewaskan sekitar 2.000 orang, sehingga meningkatkan ketidakstabilan lebih luas di Timur Tengah.
Sementara sentimen dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan pasar akan berekspektasi pada target pertumbuhan ekonomi 5,4% tahun ini. Bahkan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis mencapai 6%. Sedangkan, defisit pemerintah ditargetkan turun ke 2,7% terhadap PDB.
“Meskipun demikian, para ekonom memiliki pandangan defisit akan di atas dari apa yang ditargetkan pemerintah. Untuk hasil yang realistis, dengan defisit 2,8-3,0% dari PDB, karena pertumbuhan pendapatan mungkin akan melambat dan reformasi pengeluaran terus berlanjut,” jelas Ibrahim.(*)
- Penulis: darmanto zebua
- Editor: Darmanto Zebua


Saat ini belum ada komentar