Regulasi Ketat Bikin Orang Kaya China Hengkang dari Singapura
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Sen, 17 Nov 2025
- comment 0 komentar

Ilustrasi: Negara singapura
JAMBISNIS.COM – Gelombang orang kaya asal China dilaporkan mulai meninggalkan Singapura. Negara yang sebelumnya menjadi tujuan favorit para taipan dan keluarga superkaya dari daratan China kini tidak lagi dianggap sebagai “surga aman” setelah pemerintah memperketat regulasi keuangan dan pengawasan kekayaan.
Mengutip CNBC, Minggu (16/11/2025), tren ini membalikkan arus besar sejak 2019 ketika banyak konglomerat China memilih Singapura menyusul protes prodemokrasi di Hong Kong dan penerapan Undang-Undang Keamanan Nasional. Stabilitas politik, lingkungan hukum yang kuat, serta bahasa yang familiar pernah menjadikan Singapura tempat ideal. Namun dalam dua tahun terakhir, daya tarik tersebut perlahan memudar.
Dampak Skandal Pencucian Uang Fujian
Perubahan sikap pemerintah Singapura dimulai setelah skandal pencucian uang senilai SGD 3 miliar pada 2023 dikenal sebagai “kasus Fujian”. Pemerintah memperketat pemeriksaan nasabah, penutupan rekening mencurigakan, hingga penyaringan dokumen KYC secara masif.
“Ketika berita Fujian tersiar, banyak orang Tionghoa kaya ini pergi. Hampir semuanya pindah ke Hong Kong, Timur Tengah, atau Jepang,” ujar Ryan Lin, Direktur Bayfront Law di Singapura.
Lin menyebut permintaan pendirian family office dari warga China kini turun hingga 50% dibanding 2022.
Aturan Kripto Membuat Eksodus Makin Besar
Pengetatan semakin terasa pada 2025 ketika Singapura mewajibkan seluruh platform yang menawarkan produk kripto dan tokenisasi—bahkan kepada klien luar negeri untuk mengantongi lisensi lokal.
MAS (Otoritas Moneter Singapura) juga menetapkan aturan baru seperti:
- Modal minimum SGD 250.000
- Biaya kepatuhan tinggi
- Persyaratan AML lebih ketat
- Selektivitas ekstrem dalam pemberian lisensi
“Aturan ini menjadi titik balik. Pengusaha kripto asal China kini memilih hengkang. Kesabaran saya sudah habis,” ujar Lin.
Pemeriksaan KYC Kian Ketat
Akibat regulasi baru, banyak rekening milik warga China yang ditutup secara tiba-tiba oleh bank Singapura. Pemeriksaan KYC dilakukan berlapis, membuat sejumlah investor merasa tidak lagi ‘disambut’.
Fenomena ini menunjukkan perubahan besar dalam kebijakan keuangan Singapura, yang kini lebih ketat dan berorientasi pencegahan risiko, sekaligus mendorong arus kekayaan China untuk mencari tujuan baru di kawasan Asia dan Timur Tengah.
- Penulis: syaiful amri

Saat ini belum ada komentar