Kenaikan Harga Minyak Dunia Berpotensi Menambah Beban APBN
- account_circle syaiful amri
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung
JAMBISNIS.COM – Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyatakan kenaikan harga minyak dunia berpotensi menambah tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Lonjakan harga energi dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Menurut Juda, setiap kenaikan harga minyak mentah acuan Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar satu dolar Amerika Serikat dapat menambah defisit APBN sekitar Rp6,8 triliun.
“Di nota keuangan sudah ada sensitivity analysis. Kenaikan satu dolar ICP berdampak pada kenaikan defisit sekitar Rp6,8 triliun,” kata Juda dalam forum ekonomi di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
Selain harga minyak, tekanan terhadap APBN juga dapat berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah. Juda menyebut pelemahan rupiah sebesar Rp100 terhadap dolar AS berpotensi menambah defisit sekitar Rp800 miliar. Sementara kenaikan yield sebesar 0,1 persen dapat menambah beban sekitar Rp1,9 triliun.
Pemerintah, kata Juda, telah melakukan uji ketahanan fiskal terhadap sejumlah skenario ekonomi. Hasil simulasi menunjukkan defisit APBN masih dapat dijaga di bawah batas 3 persen terhadap produk domestik bruto.
“Kalau harga minyak sampai di atas 100 sampai 150 dolar per barel, tentu dampaknya signifikan terhadap APBN,” ujarnya.
Saat ini harga minyak global masih berada pada kisaran 70–72 dolar per barel. Dalam rentang tersebut, menurut pemerintah, target defisit dan pertumbuhan ekonomi masih sesuai dengan asumsi dalam APBN.
Sementara itu anggota Dewan Ekonomi Nasional, Septian Hario Seto, mengatakan kenaikan harga minyak masih perlu dipantau dalam beberapa waktu ke depan.
Ia menilai eskalasi konflik di Timur Tengah dapat mendorong harga energi kembali naik, terutama jika jalur perdagangan minyak terganggu.
Salah satu risiko yang diperhatikan adalah kemungkinan penutupan Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk ke pasar global. Menurut Seto, gangguan terhadap jalur tersebut tidak hanya berdampak pada harga energi, tetapi juga dapat meningkatkan biaya logistik dan perdagangan internasional.
“Kita lihat beberapa hari ke depan apakah kenaikannya bersifat sementara atau berlanjut,” kata Seto.
- Penulis: syaiful amri


Saat ini belum ada komentar