Indonesia Tekor Dagang dengan China, Australia, dan Brasil pada 2025
- account_circle Fitri Amalia
- calendar_month Sel, 3 Feb 2026
- comment 0 komentar

BPS mencatat posisi transaksi Indonesia masih tekor terhadap tiga negara utama. Defisit terdalam berasal dari China.
JAMBISNIS.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia masih mengalami defisit neraca perdagangan dengan tiga negara utama sepanjang 2025, yakni China, Australia, dan Brasil. Meski demikian, secara keseluruhan neraca perdagangan Indonesia tetap mencatatkan surplus sebesar 41,05 miliar dolar AS sepanjang Januari–Desember 2025.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, China menjadi negara penyumbang defisit terdalam bagi Indonesia dengan nilai mencapai 22,17 miliar dolar AS.
“China menjadi penyumbang defisit terdalam, yakni sebesar 22,17 miliar dolar AS. Komoditas utamanya berasal dari mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya,” kata Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/2/2026).
Selain China, Indonesia juga mencatat defisit perdagangan dengan Australia sebesar 4,88 miliar dolar AS. Defisit tersebut dipicu oleh impor komoditas serealia, bahan bakar mineral, serta bijih logam, terak, dan abu.
Sementara itu, Brasil menjadi negara ketiga penyumbang defisit dengan nilai 1,76 miliar dolar AS. Komoditas utama penyebab defisit berasal dari ampas dan sisa industri makanan hingga kapas.
Di sisi lain, BPS mencatat sejumlah negara justru menjadi penyumbang surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia. Amerika Serikat mencatat surplus tertinggi dengan nilai 21,12 miliar dolar AS, disusul India sebesar 13,62 miliar dolar AS dan Filipina sebesar 8,33 miliar dolar AS.
Ateng menjelaskan, lima komoditas utama penyumbang surplus perdagangan Indonesia secara kumulatif adalah lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta alas kaki.
Adapun komoditas yang menjadi penyumbang defisit perdagangan antara lain mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, plastik dan barang dari plastik, instrumen optik dan medis, serta serealia.
Untuk periode Desember 2025 saja, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar 2,51 miliar dolar AS. Surplus tersebut ditopang oleh sektor nonmigas yang mencatat surplus 4,60 miliar dolar AS, sementara sektor migas mengalami defisit sebesar 2,09 miliar dolar AS.
BPS mencatat, surplus Desember 2025 terjadi seiring kinerja ekspor yang mencapai 26,35 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan nilai impor yang tercatat sebesar 23,83 miliar dolar AS.
- Penulis: Fitri Amalia

Saat ini belum ada komentar