Harga Batu Bara Nanjak Lagi, HBA Tembus US$123,91
- account_circle -
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Batu bara
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Harga batu bara acuan (HBA) nanjak lagi. Pada periode II Juni 2026, HBA ditetapkan naik menjadi US$123,91 per ton, dari sebelumnya US$121,83 per ton pada periode I Juni 2026.
Kenaikan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 253.K/MB.01/MEM.B/2026 yang diakses Rabu (17/6/2026). Tren positif ini menegaskan bahwa komoditas batu bara masih menjadi salah satu penopang penting sektor energi nasional.
Dalam beleid tersebut, pemerintah membagi HBA ke dalam empat kategori berdasarkan nilai kalori batu bara. Pembagian ini bertujuan memberikan acuan harga yang lebih spesifik sesuai kualitas energi yang dihasilkan.
Nilai HBA, HBA I, HBA II dan HBA III untuk Periode Pertama November 2025 yang berlaku untuk tanggal 1 April–14 April 2026 adalah sebagai berikut:
1. HBA (6.322 GAR): 123,91 dolar AS per ton;
2. HBA I (5.300 GAR): 88,40 dolar AS per ton;
3. HBA II (4.100 GAR): 60,19 dolar AS per ton;
4. HBA III (3.400 GAR): 41,19 dolar AS per ton.
Bagi pelaku industri, kenaikan ini menjadi angin segar. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga perlu diantisipasi karena berpotensi berdampak pada biaya energi, terutama bagi sektor yang bergantung pada batu bara.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan pemerintah akan memberlakukan relaksasi kuota produksi batu bara menyusul kenaikan harga komoditas tersebut akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.
Bahlil menyampaikan relaksasi terukur untuk kuota produksi batu bara itu merupakan langkah pemerintah mengikuti perkembangan harga batu bara.
Idealnya, tutur Bahlil, ketika harga bagus, produksi pun harus banyak untuk mendapatkan dampak yang positif.
Akan tetapi, Bahlil belum menetapkan berapa kuota produksi batu bara setelah menetapkan kebijakan relaksasi produksi.
Pada awal 2026, Kementerian ESDM menetapkan kuota produksi batu bara 2026 sekitar 600 juta ton atau berkurang 190 juta ton dibandingkan realisasi pada 2025 yang mencapai 790 juta ton.
Pemangkasan tersebut dilandasi ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar internasional sepanjang 2025.
Ketidakseimbangan itu menyebabkan harga batu bara sempat menyentuh 97,65 dolar AS per ton pada periode kedua Juli 2025.
Akan tetapi, pecahnya perang AS-Israel dengan Iran menyebabkan harga batu bara meroket dari di bawah 120 dolar AS per ton, menjadi di atas 130 dolar AS per ton dalam kurun waktu kurang lebih sepekan pada awal Maret 2026.
Kenaikan harga batu bara saat ini dipicu oleh gangguan distribusi minyak mentah dan gas alam cair (LNG) di pasar internasional.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua
