Kemarau Makin Panjang, Debit Batanghari Mulai Menyusut: Waspada!
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 9 jam yang lalu
- print Cetak

MENYUSUT: Tak hanya meningkatkan ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026 juga mulai membuat debit Sungai Batanghari menyusut. (F:ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Musim kemarau mulai menunjukkan dampaknya di Provinsi Jambi. Tak hanya meningkatkan ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026 juga mulai membuat debit Sungai Batanghari menyusut.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi. Sebab, Sungai Batanghari menjadi salah satu sumber air penting bagi masyarakat dan aktivitas ekonomi di wilayah Jambi.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi Bachyuni Deliansyah mengatakan, penyusutan debit sungai merupakan dampak yang sulit dihindari ketika musim kemarau berlangsung panjang.
“Yang saya khawatirkan ketika kemarau semakin panjang dan air semakin berkurang. Itu yang paling bahaya,” kata Bachyuni, baru-baru ini.
Menurut dia, semakin panjang periode tanpa hujan, cadangan air di permukaan akan terus berkurang. Kondisi itu berpotensi menimbulkan persoalan baru apabila kemarau berlangsung lebih lama dari perkiraan.
“Kondisi tersebut berpotensi menyulitkan masyarakat dalam memperoleh air bersih, sekaligus menjadi kendala bagi petugas saat melakukan pemadaman kebakaran lahan,” ujarnya.
Karena itu, BPBD Jambi tidak hanya mewaspadai potensi Karhutla, tetapi juga memantau kondisi sumber-sumber air di daerah. Penurunan debit sungai perlu menjadi perhatian bersama, terutama jika curah hujan tetap rendah dalam beberapa pekan ke depan. Pemerintah Provinsi Jambi telah mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijaksana selama musim kemarau.
“Pak Gubernur sudah mengingatkan masyarakat supaya menggunakan air secukupnya karena saat ini kita baru memasuki puncak musim kemarau,” ujarnya.
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung mulai pekan terakhir Juli hingga September mendatang. Selain ancaman kebakaran lahan, keterbatasan air dapat berdampak pada kebutuhan masyarakat, pertanian, hingga aktivitas lainnya yang bergantung pada ketersediaan air.
Bachyuni mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran selama kondisi kemarau. Lahan yang kering akan lebih mudah terbakar dan api dapat cepat meluas ketika kondisi cuaca panas serta minim hujan.
“Jangan sampai karena kemarau panjang, kita menghadapi persoalan lain akibat air yang semakin berkurang,” tegasnya.
Selain ancaman kekeringan, Bachyuni juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap potensi penyebab kebakaran yang kerap dianggap sepele.
Ia mencontohkan kebakaran yang terjadi di pinggir jalan di Kabupaten Bungo. Menurutnya, kejadian tersebut diduga kuat dipicu puntung rokok yang dibuang sembarangan di tengah kondisi rumput yang kering.
“Kalau di pinggir jalan, sangat mungkin karena puntung rokok. Bisa juga karena anak-anak bermain api atau ulah orang yang tidak bertanggung jawab,” katanya.
Bachyuni mengaku pernah melakukan simulasi sederhana di kawasan Rantau Panjang. Dalam simulasi tersebut, bara rokok yang diletakkan di atas tumpukan rumput kering langsung memicu api ketika terkena hembusan angin.
“Saya coba sendiri. Bara rokok yang tertiup angin membuat rumput langsung terbakar dan api cepat menyebar ke sekitarnya. Artinya, puntung rokok memang sangat berbahaya saat musim kemarau seperti sekarang,” jelasnya.
Ia menambahkan, hingga saat ini sebagian besar kebakaran yang terjadi masih berada di lahan milik masyarakat dan belum ditemukan kejadian kebakaran di kawasan perusahaan.
BPBD Provinsi Jambi terus melakukan patroli di wilayah rawan kebakaran serta mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau.
“Jangan membuang puntung rokok sembarangan dan jangan membuka lahan dengan cara dibakar. Pencegahan jauh lebih penting agar kebakaran tidak terus meluas,” tegas Bachyuni.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber dan narasumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
