Kamis, 5 Nov 2026
light_mode
Beranda » Regional » Batanghari Mengamuk! Banjir 1955 Rendam Jambi, Air di Tembesi Capai 4 Meter

Batanghari Mengamuk! Banjir 1955 Rendam Jambi, Air di Tembesi Capai 4 Meter

  • account_circle -
  • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAMBISNIS.COM – Sungai Batanghari pernah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Jambi. Namun, sungai terpanjang di Sumatera itu juga menyimpan catatan panjang bencana. Salah satu yang paling dahsyat terjadi pada Januari 1955.

Banjir saat itu bukan hanya merendam kawasan perkotaan. Genangan meluas mengikuti bentang Sungai Batanghari, menghantam wilayah Kabupaten Batanghari hingga sebagian Merangin. Di Muara Tembesi, ketinggian air bahkan mencapai sekitar empat meter.

Bencana besar itu menjadi gambaran betapa seriusnya perubahan lingkungan di kawasan Batanghari setelah berlangsung selama puluhan tahun.

Hutan Dibuka, DAS Berubah

Jejak persoalan tersebut tidak muncul tiba-tiba. Sejak awal abad ke-20, perubahan bentang alam di sekitar Sungai Batanghari berlangsung semakin masif. Perkembangan ekonomi dan kebijakan eksploitasi pada masa kolonial Belanda mendorong pembukaan kawasan hutan dan perubahan fungsi lahan.

Pembangunan jalur penghubung antara kawasan hulu dan hilir berjalan beriringan dengan aktivitas ekonomi. Hutan dibuka. Sebagian kawasan daerah aliran sungai (DAS) berubah menjadi perkebunan dan persawahan.

Memasuki dekade 1920-an, perkebunan karet berkembang pesat. Komoditas tersebut menjadi salah satu pendorong pembukaan hutan dalam skala besar.

Perubahan tutupan lahan itu bukan tanpa konsekuensi. Penelitian sejarah mengenai banjir Jambi mencatat pembukaan perkebunan karet dan penebangan hutan di kawasan hulu ikut memicu longsoran. Material longsoran kemudian berkontribusi terhadap pendangkalan Sungai Batanghari.
Masalah semakin kompleks karena tekanan terhadap hutan tidak berhenti setelah Indonesia merdeka pada 1945.

Industri furnitur di wilayah hilir membutuhkan pasokan kayu dari kawasan hulu. Aktivitas pertambangan juga berkembang. Eksploitasi sumber daya pun terus berlangsung.
Di atas kertas, aktivitas tersebut menjadi bagian dari denyut ekonomi. Namun, perubahan besar pada bentang alam juga membawa konsekuensi ekologis yang baru terasa dalam jangka panjang.

Banjir Besar 1955

Akumulasi perubahan tersebut kemudian bertemu dengan hujan ekstrem.

Pada akhir Januari 1955, hujan mengguyur Jambi selama sekitar sepuluh hari. Debit air Sungai Batanghari meningkat dan sungai tak mampu menampung seluruh aliran.
Banjir pun meluas.

Penelitian sejarah mencatat sekitar 80 persen wilayah Jambi terendam. Dampaknya menjangkau kawasan-kawasan yang berada di sepanjang DAS Batanghari.

Kabupaten Batanghari dilaporkan terendam hampir seluruhnya. Sementara sekitar separuh wilayah Merangin ikut terendam. Kota Jambi juga mengalami dampak berat, termasuk terganggunya hubungan transportasi dengan daerah lain.

Di Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari, situasinya sangat parah. Ketinggian air dilaporkan mencapai sekitar empat meter. Kawasan tersebut bahkan digambarkan berubah seperti danau.
Di kawasan Kampung Penyeberangan Tanjung, rumah dan toko yang berada dekat aliran air dilaporkan hanyut. Banyak warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka terendam.

Jalur transportasi ikut lumpuh. Jalan dari daerah luar menuju Kota Jambi terputus. Begitu pula jalur yang menghubungkan Palembang–Jambi dan Bukittinggi–Jambi. Genangan membuat hubungan darat dan komunikasi dengan daerah lain terganggu.

42 Ribu Hektare Sawah Rusak

Skala kerusakan banjir 1955 tidak kecil. Sekitar 42 ribu hektare sawah siap panen dilaporkan hancur.

Jumlah masyarakat yang terdampak diperkirakan mencapai 350 ribu orang. Lima orang dilaporkan meninggal dunia.

Besarnya dampak tersebut membuat banjir 1955 dikenang sebagai salah satu banjir terbesar dalam sejarah Jambi.

Komando Teritorial II/Sriwijaya, Kolonel Bambang Utoyo, bahkan menyebut bencana tersebut sebagai bencana nasional dan sebagai banjir terburuk dalam kurun seratus tahun terakhir, sebagaimana dikutip dalam penelitian yang menggunakan arsip surat kabar periode tersebut.

Bagi masyarakat yang hidup di sepanjang Batanghari, bencana itu bukan sekadar persoalan air yang naik.

Rumah terendam. Sawah rusak. Jalan putus. Aktivitas ekonomi berhenti. Warga terpaksa menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi atau menggunakan perahu untuk mengungsi.

Bukan Sekadar Soal Hujan

Banjir 1955 memang dipicu hujan deras yang berlangsung berhari-hari. Namun, catatan sejarah menunjukkan persoalannya lebih panjang daripada sekadar cuaca ekstrem.

Perubahan ekologis di sepanjang Sungai Batanghari telah berlangsung sejak masa kolonial. Pembukaan hutan, perluasan perkebunan, longsoran, pendangkalan sungai, hingga eksploitasi kayu dan sumber daya alam ikut mengubah kemampuan lingkungan dalam mengendalikan air.

Artinya, ketika hujan ekstrem datang, tekanan terhadap sistem sungai sudah jauh lebih besar.
Namun, banjir tidak tepat dijelaskan hanya dengan satu penyebab. Curah hujan, kondisi sungai, sedimentasi, perubahan penggunaan lahan, tata ruang, kapasitas drainase, serta kondisi kawasan hulu dan hilir sama-sama dapat memengaruhi besarnya genangan.

Di sinilah pelajaran dari banjir 1955 menjadi penting.

Batanghari Butuh Penanganan dari Hulu

Sejarah tersebut menunjukkan bahwa penanganan banjir tidak cukup dilakukan ketika air sudah masuk ke rumah warga.

Penanganan darurat tetap menjadi keharusan untuk menyelamatkan masyarakat ketika banjir terjadi. Tetapi pada saat yang sama, kawasan hulu dan DAS juga membutuhkan perlindungan jangka panjang.

Pemulihan tutupan vegetasi, pengendalian alih fungsi lahan, perlindungan sempadan sungai, pengawasan aktivitas perkebunan dan pertambangan, serta pengelolaan sedimentasi menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi ekologis Sungai Batanghari. Sebab, sungai tidak berdiri sendiri.

Apa yang terjadi di kawasan hulu pada akhirnya dapat dirasakan masyarakat di hilir.
Banjir 1955 telah memberikan gambaran paling jelas. Ketika hutan berubah, DAS tertekan dan sungai mengalami pendangkalan, kemudian hujan besar datang, dampaknya bisa menjalar jauh mengikuti aliran Batanghari.

Sejarah banjir 1955 akhirnya bukan sekadar cerita tentang air yang pernah mencapai empat meter. Itu adalah peringatan bahwa kerusakan lingkungan yang berlangsung puluhan tahun bisa berubah menjadi bencana hanya dalam hitungan hari. Dan bagi Sungai Batanghari, pelajaran itu masih relevan hingga sekarang.(*)

 

Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber dan narasumber.

 

  • Penulis: -
  • Editor: Darmanto Zebua

Rekomendasi Untuk Anda

  • IMF Peringatkan: Utang Dunia Siap Menembus 100% PDB Global, Sinyal Bahaya bagi Ekonomi dan Pasar Keuangan

    IMF Peringatkan: Utang Dunia Siap Menembus 100% PDB Global, Sinyal Bahaya bagi Ekonomi dan Pasar Keuangan

    • calendar_month Kamis, 16 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Dunia menghadapi ancaman baru di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan total utang pemerintah dunia akan mencapai 100 persen dari produk domestik bruto (PDB) global pada 2029, level tertinggi sejak Perang Dunia II. Kenaikan tajam ini mencerminkan beban fiskal yang kian berat setelah pandemi COVID-19. Selama krisis, banyak negara menambah […]

  • Harga Sembako di Pasar Kasang Stabil, Harga Cabai Melonjak Tajam

    Harga Sembako di Pasar Kasang Stabil, Harga Cabai Melonjak Tajam

    • calendar_month Jumat, 21 Nov 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga sejumlah kebutuhan pokok di Pasar Rakyat Kasang, Kota Jambi, pada Jumat (21/11/2025) tercatat masih stabil. Namun, beberapa komoditas strategis, terutama kelompok cabai dan ayam broiler, mengalami kenaikan harga cukup signifikan. Data tersebut diperoleh dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Jambi. Kenaikan tertinggi terjadi pada cabai rawit hijau yang melonjak 33,33 persen menjadi […]

  • Batik Air Jangan Sampai Pergi! Bungo dan Tiga Tetangga Bersatu Jaga Rute Strategis

    Batik Air Jangan Sampai Pergi! Bungo dan Tiga Tetangga Bersatu Jaga Rute Strategis

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Langkah strategis untuk mengoptimalkan operasional Bandara Muara Bungo terus dipacu. Pemerintah Kabupaten Bungo berhasil menggalang sinergi dan komitmen bersama tiga kabupaten tetangga guna mendukung keberlanjutan penerbangan maskapai Batik Air rute Jakarta–Muara Bungo pulang-pergi (PP). Komitmen tersebut dikukuhkan melalui penandatanganan dukungan penerbangan oleh Pemerintah Kabupaten Sarolangun, Merangin, dan Tebo di Bandung, Jawa Barat, pada […]

  • Update Harga Emas Antam Hari Ini: Sempat Naik, Kini Ambruk Lagi ke Rp2,57 Juta

    Update Harga Emas Antam Hari Ini: Sempat Naik, Kini Ambruk Lagi ke Rp2,57 Juta

    • calendar_month Selasa, 6 Okt 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga emas produksi Antam tidak mampu bertahan lama. Setelah sempat menguat sehari sebelumnya, harga logam mulia tersebut kembali merosot pada perdagangan Selasa (6/10/2026). Kini harga emas Antam berada di level Rp2.570.000 per gram. Merujuk laman Logam Mulia, harga emas yang banyak diminati masyarakat dan investor tersebut terkoreksi Rp10.000 per gram. Sebelumnya, harga logam […]

  • Harga BBM Pertamina Oktober 2026 Tetap, Pertalite Rp10.000 per Liter

    Harga BBM Pertamina Oktober 2026 Tetap, Pertalite Rp10.000 per Liter

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – PT Pertamina Patra Niaga memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi dan nonsubsidi tidak mengalami perubahan memasuki Oktober 2026. Harga yang berlaku sejak September tetap dipertahankan per 1 Oktober 2026. Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan keputusan tersebut berlaku untuk seluruh jenis BBM yang dipasarkan Pertamina. “Per 1 Oktober […]

  • Rampung Dalam 3 Bulan, Danantara Bangun 15.000 Huntara Korban Bencana Sumatra

    Rampung Dalam 3 Bulan, Danantara Bangun 15.000 Huntara Korban Bencana Sumatra

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) bergerak dalam menangani pemulihan pasca-bencana banjir dan longsor di wilayah Sumatra hingga Aceh. Danantara menargetkan, pembangunan sebanyak 15.000 unit Hunian Sementara (Huntara) bagi masyarakat terdampak dalam waktu singkat. CEO Danantara, Rosan P. Roeslani, mengungkapkan bahwa progres awal pembangunan hunian tersebut menunjukkan tren positif. Bahkan, dalam […]

expand_less