Geopolitik Global 2026 Tekan Rupiah dan APBN, Ekonom Ingatkan Risiko Iran dan Manuver AS
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Sel, 13 Jan 2026
- comment 0 komentar

Kapal Perang Indonesia saat menggelar latihan bersama
JAMBISNIS.COM – Perekonomian global pada 2026 diperkirakan menghadapi tekanan serius akibat meningkatnya eskalasi geopolitik internasional. Ketegangan politik di Iran serta manuver agresif Amerika Serikat di berbagai kawasan dinilai berpotensi menekan nilai tukar Rupiah dan memperberat beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro menyampaikan bahwa meski eksposur perdagangan langsung Indonesia ke wilayah konflik relatif kecil, dampak rambatan melalui pasar keuangan global dan harga energi tetap menjadi ancaman utama. Ketidakpastian global mendorong investor mengalihkan dana ke aset aman, yang berisiko memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ketegangan politik di Iran menjadi sorotan karena negara tersebut merupakan salah satu produsen minyak dunia. Inflasi tinggi, depresiasi mata uang, serta tekanan sanksi internasional memperbesar risiko gangguan pasokan energi global. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia dan menekan fiskal Indonesia sebagai negara pengimpor minyak.
Data Bank Mandiri mencatat, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel dapat menambah defisit fiskal Indonesia hingga Rp6,8 miliar. Jika harga minyak bertahan di atas asumsi APBN, tekanan inflasi domestik juga berpotensi meningkat.
Dari sisi perdagangan, ekspor dan impor Indonesia ke Iran relatif kecil, masing-masing di bawah 1 persen dari total transaksi nasional. Namun, volatilitas pasar keuangan dinilai sebagai jalur transmisi tercepat dari risiko geopolitik global ke perekonomian domestik, terutama terhadap nilai tukar Rupiah.
Sementara itu, Research Director Prasasti Center for Policy Studies Gundy Cahyadi mengingatkan pemerintah agar menghindari kebijakan yang bersifat eksperimental pada 2026. Menurutnya, stabilitas kebijakan dan kualitas implementasi menjadi kunci di tengah ruang fiskal yang semakin terbatas dan risiko global yang meningkat.
Gundy menilai Rupiah menjadi variabel paling rentan terhadap lonjakan aversi risiko global. Pelemahan nilai tukar dapat berdampak langsung pada investasi, mengingat tingginya kandungan impor dalam struktur investasi nasional.
Meski pasokan energi global saat ini dinilai masih relatif longgar, eskalasi geopolitik yang meluas berpotensi meningkatkan risiko terhadap perdagangan global dan koordinasi kebijakan internasional. Pemerintah dan otoritas ekonomi pun dituntut memperkuat ketahanan fiskal dan menjaga stabilitas makroekonomi untuk menghadapi tantangan ekonomi 2026.
- Penulis: syaiful amri

Saat ini belum ada komentar