Eropa Tolak Permintaan Trump Kirim Militer ke Selat Hormuz, Jerman dan Inggris Pilih Jalur Diplomasi
- account_circle say say
- calendar_month 4 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Ilustrasi peta Selat Hormuz.
JAMBISNIS.COM – Sejumlah pemimpin Eropa menolak permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengerahkan kekuatan militer dalam menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang tengah memanas akibat konflik Timur Tengah.
Dalam pertemuan Uni Eropa di Brussels, Belgia, Senin (16/3/2026), Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menegaskan bahwa negaranya belum memiliki rencana untuk terlibat dalam operasi militer di kawasan tersebut.
Ia menyatakan bahwa Jerman masih membutuhkan kejelasan terkait tujuan dan arah operasi sebelum mengambil langkah lebih lanjut, termasuk merumuskan arsitektur keamanan kawasan bersama negara-negara terkait.
Sikap tegas juga disampaikan Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, yang menegaskan bahwa konflik tersebut bukan bagian dari kepentingan langsung negaranya.
“Ini bukan perang kami. Kami tidak memulainya,” ujar Pistorius.
Menurut dia, kekuatan militer Amerika Serikat sudah lebih dari cukup untuk mengamankan wilayah tersebut tanpa harus melibatkan armada tambahan dari negara-negara Eropa.
Pernyataan senada disampaikan juru bicara Kanselir Jerman yang menegaskan bahwa konflik di Selat Hormuz tidak memiliki kaitan dengan NATO.
Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menegaskan bahwa operasi di Selat Hormuz tidak pernah direncanakan sebagai bagian dari misi NATO.
Ia memastikan Inggris tidak akan terseret dalam konflik yang lebih luas, meskipun tetap membuka ruang komunikasi dengan Amerika Serikat dan sekutu lainnya.
Namun demikian, Inggris disebut tengah mempertimbangkan penggunaan teknologi non-konvensional, seperti drone pemburu ranjau, untuk membantu menjaga keamanan jalur pelayaran tanpa keterlibatan militer langsung.
Penolakan dari negara-negara Eropa ini mencerminkan kehati-hatian dalam merespons eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya setelah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis perdagangan minyak dunia. Setiap gangguan di wilayah tersebut berpotensi memicu gejolak harga energi global serta berdampak luas terhadap perekonomian internasional.
Sikap Eropa yang lebih mengedepankan jalur diplomasi dinilai sebagai upaya meredam konflik agar tidak meluas menjadi krisis global yang lebih besar.
- Penulis: say say


Saat ini belum ada komentar