Demam Emas Modern, Ketika Harga Emas Terus Melonjak dan Ancaman Inflasi
- account_circle Deddy Rachmawan
- calendar_month Sel, 27 Jan 2026
- comment 0 komentar

TERKOREKSI: Harga emas Antam kini dibanderol Rp2.790.000 per gram, turun Rp15.000 dibandingkan harga hari sebelumnya.(F:Ist)
JAMBISNIS.COM – Mereka yang mengamati pergerakan harga emas dalam setahun terakhir tentu mendapati, betapa cepatnya harga emas beranjak naik.
Siapa nyana rilis inflasi 2025 oleh BPS mendapati, emas punya andil dalam angjka inflasi tahunan. Memang, ia tidak seperti komoditas lainnya semisal cabai merah, rokok yang acap menyumbang inflasi. Dua yang disebut terakhir, boleh disebut konsumsi harian banyak masyarakat kita. Lha emas?
BPS menyebut emas perhiasan memuncaki posisi komoditas dengan andil inflasi tahunan terbesar, yakni 0,79 persen. Sepanjang tahun lalu, emas tercatat menjadi penyumbang inflasi bulanan sebanyak 11 kali. Anda mungkin bertanya, fenomena apa ini?
Mengutip Kompas.com, secara tahunan, harga emas mengalami inflasi hingga 58,98 persen pada Desember 2025. Secara bulanan, inflasi emas perhiasan pada Desember 2025 masih berada di level tinggi, yakni 3,4 persen, dengan andil inflasi 0,07 persen. Dari angka itu terjawab mengapa emas bisa menjadi faktor penentu inflasi.
Kita merujuk pada harga emas logam mulia Antam. Rekor tertinggi tercapai pada Senin (26/1/2026). Rp 2.917.000 per gram. Padahal di awal tahun 2026, harganya masih Rp 2.488.000 per gram. Kurang sebulan kenaikannya mencapai Rp 429.000.
Secara global, harga emas dunia per Selasa (27/1/2026) bahkan kembali mencetak rekor. Harga emas spot naik ke level sekitar 5.060,36 dollar AS per ounce. Sehari sebelumnya, logam mulia tersebut sempat menembus rekor tertinggi sepanjang masa di 5.110,50 dollar AS per ounce.
Dinamika tatanan global turut memicu kenaikan emas di seluruh dunia. dinamika politik domestik AS, pelemahan nilai tukar dolar termasuk konflik yang Rusia-Ukraina memberi andil.
“Begitu terjadi perang Rusia dan Ukraina, simpanan dolar Rusia dibekukan oleh negara Barat. Karena itu, mereka beralih mencari cadangan yang lebih aman, yaitu emas, dan pembelian besar-besaran pun terjadi.” Begitu Mendagri Tito Karnavian mengomentari fenomena demam emas ini.
Ia menjelaskan lonjakan harga emas tak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan dampak lanjutan dari perang Rusia-Ukraina yang mengubah pola keuangan global. Sebelum perang, Rusia dikenal sebagai pemasok utama minyak dan gas ke Eropa, dengan transaksi menggunakan dolar AS.
Menurutnya, efek domino pun muncul. China, India, dan sejumlah negara lain turut mengalihkan cadangan devisanya dari dolar ke emas, bahkan hingga membeli tambang emas di berbagai wilayah dunia. Fenomena ini mendorong lonjakan tajam harga emas secara global.
Rentetan panjang itulah yang juga memicu demam emas modern di tanah air. Masyarakat berlomba membeli emas sebagai instrumen lindung nilai, sehingga semakin memperkuat tekanan harga. Dan, seperti kata BPS, emas turut menyumbang inflasi.
Fenomena ini terbaca pula, bahwa masyarakat kelas menengah memiliki peran karena emas menambah bobot signifikan dalam keranjang konsumsi sebagian masyarakat. Entah itu emas perhiasan maupun emas logam mulia.
Kini, yang perlu dilihat pemerintah adalah bagaimana agar angka inflas tidak terus naik. Pasalnya secara tahunan, inflasi Desember 2025 berada di level 2,92 persen. Angka itu mendekati ambang batas pemerintah sebesar 3,5 persen. Ujung-ujungnya, bila inflasi terus meroket, kita tahu siapa yang paling terdampak. Yap, masyarakat berpenghasilan rendah.
- Penulis: Deddy Rachmawan

Saat ini belum ada komentar