China Pertimbangkan Batasi Ekspor Teknologi Panel Surya ke AS
- account_circle say say
- calendar_month 22 menit yang lalu
- comment 0 komentar

China saat ini menguasai lebih dari 80% produksi komponen panel surya global dan menjadi rumah bagi sejumlah pemasok peralatan terbesar di dunia.
JAMBISNIS.COM – China tengah mempertimbangkan pembatasan ekspor teknologi canggih untuk pembuatan panel surya ke Amerika Serikat. Kebijakan ini berpotensi memengaruhi investasi perusahaan AS serta memperdalam rivalitas teknologi kedua negara.
Mengutip laporan Reuters, pejabat China telah melakukan pembicaraan awal dengan sejumlah pemasok peralatan panel surya terkait kemungkinan pembatasan tersebut. Namun hingga kini, kebijakan itu masih dalam tahap diskusi dan belum menjadi aturan final.
China saat ini menguasai lebih dari 80% produksi komponen panel surya global dan menjadi rumah bagi sejumlah pemasok peralatan terbesar di dunia. Jika pembatasan diterapkan, perusahaan-perusahaan AS yang tengah mengembangkan produksi panel surya domestik berpotensi menghadapi hambatan signifikan.
Salah satu perusahaan yang terdampak adalah Tesla. Perusahaan milik Elon Musk tersebut diketahui tengah memperluas fasilitas produksi panel surya di AS.
Reuters sebelumnya melaporkan, Tesla berencana membeli peralatan panel surya senilai US$ 2,9 miliar dari pemasok China, termasuk Suzhou Maxwell Technologies, yang kini sedang mengurus izin ekspor dari otoritas China.
Rencana pembatasan ini juga mencerminkan meluasnya rivalitas teknologi antara China dan AS, yang sebelumnya telah mencakup pembatasan ekspor logam tanah jarang oleh Beijing sebagai respons atas kebijakan tarif Washington.
Selain Tesla, perusahaan teknologi besar seperti Google dan Amazon juga terus meningkatkan investasi di sektor energi surya dan penyimpanan energi, seiring meningkatnya kebutuhan listrik untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Salah satu teknologi yang menjadi sorotan adalah HJT (heterojunction solar technology), yang dikenal memiliki efisiensi tinggi dalam menghasilkan energi dari sinar matahari. Peralatan produksi berbasis teknologi ini menjadi incaran perusahaan-perusahaan AS.
Di sisi lain, China mulai khawatir terhadap upaya perusahaan AS mengurangi ketergantungan terhadap teknologi surya dari negara tersebut. Ambisi Tesla untuk mencapai kapasitas produksi panel surya hingga 100 gigawatt di AS sebelum 2028 dinilai dapat menjadi ancaman serius bagi dominasi industri China.
Lembaga riset Trivium China menyebut, keberhasilan Tesla membangun kemandirian di sektor energi surya dapat menjadi “mimpi buruk” bagi produsen panel surya China.
Wacana pembatasan ekspor ini juga muncul menjelang rencana pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump di Beijing. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk menjaga stabilitas hubungan dagang kedua negara di tengah meningkatnya tensi global.
- Penulis: say say



Saat ini belum ada komentar